Sunday, June 28, 2015

Bahasa adalah identitas diri, tapi kok..?!

Di era globalisasi membuat pengaruh bahasa-bahasa yang berasal dari luar daerah masyarakat setempat mudah masuk dan juga 'diadopsi' oleh masyarakat setempat dalam komunikasi sehari-hari untuk menambah nilai diri seseorang, contohnya saja bahasa Inggris. Oleh karena itu, hal inilah yang membuat semakin banyak orang-orang memulai mempelajari bahasa asing baik untuk tuntutan kerjaan, sekolah dll sehingga sekarang ini memungkinkan seseorang untuk menguasai lebih dari satu bahasa asing di luar bahasa ibunya. Namun di sisi lain, saat ini banyak sekali istilah asing yang digunakan sebagai tanda atau rambu di tempat umum, seperti sekolah, rumah sakit, mall, jalan raya dan lainnya. Para pembuat peraturan cenderung lebih memilih untuk menggunakan bahasa Inggris dibanding dengan bahasa Indonesia. Kalau pun ada bahasa Indonesianya itu hanyalah sebagai terjemahan dari tanda yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Tapi sadarkah kalian kalau tanda yang dibuat itu untuk memberitahukan suatu informasi? Jika pesan tersebut disampaikan dalam bahasa yang asing dengan masyarakat setempat bagaimana pesan tersebut bisa sampai kepada pembaca pesan tersebut? Kecuali tanda-tanda yang menggunakan bahasa Inggris tersebut hanya tertuju pada penutur asli bahasa Inggris saja ya masih masuk akal. Bahasa digunakan oleh manusia sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi dapat berhasil jika kedua penutur dapat saling mengerti apa maksud yang ingin disampaikan. Selain itu, bahasa asing yang dijadikan sebagai tanda (misal: "Sorry, for your inconvenience.", "This building is under construction.", "CAUTION, wet floor".) dan bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari tanda tersebut secara langsung mengindikasikan bahwa penutur asing lebih penting dibanding masyarakat kita sendiri yang berbahasa Indonesia. Mungkin banyak orang-orang yang tidak menyadari masalah ini padahal masalah ini sangatlah penting. Bahasa adalah identitas diri. Jika posisi bahasa asing lebih diutamakan berarti ya kita menerima identitas kita lebih rendah dari bahasa tersebut. Sadar atau tidak kita sudah 'terjajah' secara tidak langsung. Ya, ini menurut pandangan saya pribadi ya mungkin ada juga yang berpendapat lain. Saya tidak begitu suka dan merasa heran jika melihat tanda dalam bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya. Tanda tersebut dipasang di negara yang penutur bahasanya adalah berbahasa Indonesia, mengapa bahasa yang digunakan tidak ditulis dalam bahasa Indonesia dan baru diterjemahkan ke dalam bahasa asing lainnya untuk membantu penutur asing mengetahui maksud dari tanda tersebut. Saya tidak melarang jika orang-orang menggunakan bahasa asing tapi harus tahu dimana, kapan menggunakan bahasa tersebut dan untuk tujuan apa. Jika alasan untuk belajar itu tidak jadi masalah. Saya jadi teringat ketika saya mengunjungi suatu negara di Timur Tengah, Saudi Arabia. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional pikir saya. Namun, apa yang terjadi ketika sampai di sana? Mayoritas masyarakat di sana tidak begitu menguasai bahasa asing ini. Mereka masih berpegang teguh menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi, salut. Selain itu, di sana ada juga tanda-tanda, rambu dalam bahasa asing namun posisi bahasa Arab yang digunakan pada tanda-tanda tersebut berada di posisi awal baru kemudian diikuti oleh bahasa asing lainnya. Dari sana saya menyadari bahwa mereka benar-benar menghargai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka dibanding yang lain, dan ini sekaligus mengindikasikan bahwa mereka mempertahankan identitas mereka sebagai bangsa Arab. Hal ini terlihat seperti hal yang kecil namun sebenarnya masalah bahasa ini memiliki arti yang besar karena bahasa adalah identitas suatu bangsa. Kita boleh mempelajari bahasa asing tertentu untuk tujuan tertentu, misalnya saja kita mempelajari bahasa asing agar bisa berkomunikasi dengan para penutur asing lain, memudahkan kita berkomunikasi ketika kita mengunjungi suatu negara, dll.

Saya jadi teringat suatu kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya suka merasa 'lucu' jika mendengar atau melihat orang yang menggunakan suatu bahasa di luar bahasa ibunya di negara yang bukan bahasa penutur asingnya dengan tujuan menambah nilai dirinya atau bahasa sekarang supaya dibilang gaul atau ingin 'membudayakan' bahasa tersebut. Suatu ketika saya, kakak, dan ibu saya pergi menghadiri suatu kajian di sebuah mesjid di Bandung. Saya duduk bersebelahan dengan ibu saya. Di ruangan tersebut memang padat sehingga menyulitkan orang untuk lalu-lalang. Kemudian, ada seorang perempuan yang ingin lewat di antara saya dan ibu saya. Perempuan tersebut kemudian mengatakan "afwan" ketika mau melewati kami. Saya dan ibu saya hanya diam saja tidak mengerti maksud perempuan tadi. Perempuan tadi pun mengulangi kata-katanya. Saya hanya tersenyum. Sampai akhirnya dia menggunakan bahasa tubuhnya untuk menunjukkan maksudnya tadi.
Saya heran mengapa perempuan tadi lebih cenderung menggunakan bahasa Arab ketimbang bahasa Indonesia atau bahasa Sunda yang merupakan bahasa ibunya orang-orang Bandung pada umumnya dan sudah jelas dimengerti oleh kami. Muncul banyak pertanyaan dalam otak saya. Saya yakin perempuan tadi adalah orang Indonesia bukan orang Arab karena dia bisa berbicara dengan bahasa Indonesia dengan fasih tapi mengapa untuk mengucapkan "permisi", "punten" atau "maaf" di lingkungan yang mayoritas penutur asli bahasa Indonesia dan Sunda dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas-jelas tidak dimengerti.
Dari situ saya jadi penasaran mencari arti kata "afwan", dan apa hasilnya? Sungguh mengejutkan. Menurut hasil pencarian yang saya lakukan ternyata kata "afwan" digunakan ketika ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepada kita sebagai balasannya.
Ilustrasi:
A: "syukron" (terima kasih)
B: "afwan" (sbg ungkapkan terima kasih kembali)
Saya jadi semakin heran mengapa dia menggunakan bahasa yang bukan penutur bahasa aslinya di tempat bukan tempat penutur bahasa aslinya dan  secara pemakaian salah bukan pada ungkapan yang seharusnya. Apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan? Apakah ia ingin memperlihatkan identitas dia? bahwa dia sudah "kearab-arab'an"? Atuhlah..
Nah, fenomena bahasa yang sering terjadi saat ini asal "comot" tanpa ada dasar pengetahuan didalamnya ini yang kadang membuat saya bingung, dan heran mengapa bisa mereka "menggunakan" bahasa yang memang asing dari bahasa ibunya tanpa "mempelajari"nya terlebih dahulu. 😰
Memang membuat kesalahan dalam berbahasa tidak mengapa karena membuat kesalahan adalah salah satu proses pembelajaran. Namun, baiknya kita belajar secara menyeluruh mengenai bahasa yang kita sedang pelajari sebab bahasa mengandung 'budaya' tersendiri yang harus kita tahu agar tidak salah ketika kita mengekspresikan diri melalui bahasa tersebut dan ketika kita mulai menuturkan bahasa asing kita memiliki pengetahuan yang baik mengenai bahasa tersebut.

Wednesday, May 6, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 3)

Hari ketiga di Makkah Al Mukarramah.. Tak terasa sudah menginjak hari ketiga. Hari ini agenda kami adalah mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Makkah, yaitu Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jabal Noor (Gua Hira), Kuburan Ma'la, dan terakhir Museum Haramain. Pada saat berziarah jangan lupa untuk membawa kamera karena pasti akan banyak tempat menarik yang bisa diabadikan. Jadi sebelum berangkat siapkan kamera dalam tas ya dan pastikan baterai dalam kondisi penuh terisi.
Setelah sarapan pagi, kami pun bersiap untuk pergi berziarah. Kami menggunakan bus yang telah disiapkan oleh pihak travel. Bus yang kami gunakan adalah Farok Jamil Khogeer. Bus di sini, menurut saya, cukup berbeda dengan bus yang ada di Indonesia. Dari segi ukuran, bus di Arab Saudi sepertinya berukuran lebih besar dari pada bus di Indonesia. Ketika saya masuk ke dalam bus, saya kaget karena mendengar sang supir sedang berbicara menggunakan bahasa Sunda. Postur tubuhnya yang menyerupai orang-orang Arab tidak menunjukkan bahwa beliau adalah orang Indonesia ternyata sang supir berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Pantas saja beliau sangat fasih berbicara bahasa Sunda.
Destinasi pertama kita adalah Jabal Tsur. Jabal adalah bahasa Arab untuk gunung. Kondisi alam di sini memang berbeda dari Indonesia. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dapat kita lihat adalah gunung bebatuan. Ketika sampai di Jabal Tsur, kami disajikan pemandangan yang berupa bebatuan ya memang di luar ekspektasi saya tapi seharusnya saya sudah bisa menebak tentang bagaimana tempat tersebut mengingat kondisi alam di sini yang dikelilingi oleh gunung batu. Walaupun di sini hanya ada pemandangan gunung batu namun tempat ini merupakan tempat bersejarah bagi umat Muslim. Yeah, it's still worth to be visited knowing such a historical place for Muslims. Di sini kami hanya diberi waktu 15 menit saja untuk melihat-lihat dan berfoto.
Lanjut ke destinasi berikutnya yaitu Jabal Rahmah. Jabal Rahmah terletak tidak begitu jauh sekitar 20-30 menit dari Jabal Tsur dengan menggunakan kendaraan. Di Makkah masih tidak begitu padat kendaraan jadi di sini bisa dikatakan bebas dari macet. Jabal Rahmah terletak di daerah Arafah. Menurut sejarah, Jabal Rahmah adalah tempat dipertemukannya Nabi Adam AS dengan Siti Hawa setelah Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi. Banyak orang-orang yang percaya kalau kita menuliskan nama di batu-batu yang ada di Jabal Rahmah kita akan mendapatkan jodoh atau menuliskan nama kita dengan pasangan kita akan langgeng selamanya nah tapi itu cuma mitos ya jadi gak usah percaya. Ketika akan turun dari bus, para Muthowwif terlebih dahulu memberitahu kami untuk tidak membeli spidol atau pun mencorat-coret dan mengotori Jabal Rahmah. Selain itu, para Muthowwif pun menyarankan agar tidak menerima tawaran dari tukang foto keliling karena harga cetaknya yang mahal juga nanti akan dipaksa untuk membeli seluruh foto. Akhirnya tiba di Jabal Rahmah, kami diberi waktu 30 menit untuk melihat-lihat. Memang tidak begitu lama karena kami masih memiliki destinasi lain untuk dikunjungi. Kondisinya di sini tidak jauh berbeda dengan Jabal Tsur. Di sini terdapat sebuah tugu, konon tugu itulah tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Hari ini ada banyak turis yang mengunjungi tempat ini bisa dibilang hari ini cukup padat. Tugu yang saya maksud terletak di atas gunung sehingga kami harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. Karena cukup padat jadi kami harus berdesakan saat menaiki anak tangga. Di sana kami bisa melihat banyak orang-orang yang sedang memanjatkan do'a. Untuk menghindari perbuatan syirik petugas yang ada di sana mengarahkan para peziarah untuk berdo'a menghadap ke Ka'bah bukan ke arah tugu. Di puncak dekat tugu terdapat sebuah billboard yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak datang ke tempat ini melainkan pada hari Arafah dan Nabi SAW tidak mengusap batu ataupun melaksanakan shalat di tempat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad SAW mengunjungi tempat ini sebagai salah rangkaian ibadah haji, yaitu pada saat bermalam di padang Arafah. Dari tulisan di billboard seolah-olah menegaskan untuk tidak mengagung-agungkan tempat tersebut. Saya masih bisa melihat banyak coretan di batu-batu sekitar tugu ya mungkin mereka percaya dengan mitos tersebut. Sebaiknya jangan percaya ya. Hehe
Jabal Rahmah ini merupakan salah satu tempat bersejarah namun sangat disayangkan para pengunjung tidak memperhatikan kebersihan di sekitaran Jabal Rahmah jadi kita bisa melihat banyak sampah yang berserakan.
Setelah selesai di Jabal Rahmah, kami pun meneruskan perjalanan menuju Mina dan Muzdalifah. Ya kedua tempat tersebut terdapat di Arafah, letaknya sangat dekat dari Jabal Rahmah. Di sini kami bisa melihat camp bagi para jama'ah haji dan di sini kita bisa menemukan stasiun kereta api. Stasiun kereta di sini terlihat lebih modern. Ada banyak sekali tenda-tenda yang disediakan oleh pemerintah Arab Saudi kali ini pemandangan yang kita bisa lihat adalah berupa tenda-tenda berwarna putih. Di samping camp bagi jama'ah haji terdapat sebuah gunung yang di atasnya terdapat bangunan seperti istana. Yap, menurut penjelasan dari muthowwif itu adalah istana Raja Arab Saudi. Baru kali ini saya bisa melihat istana raja secara langsung, benar-benar megah. Selama di Mina dan Muzdalifah kami tidak turun dari bus karena memang tidak memungkinkan untuk turun dari bus. Dari sini kami meneruskan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Kami melewati Jabal Noor, tempat gua Hira berada dan pemakaman Ma'la. Karena waktu yang terbatas kami hanya sekedar melewati kedua tempat tersebut. Oiya, ada lagi yang berbeda yaitu tempat pemakaman. Di sini makamnya cenderung sederhana hanya diberi tanda oleh sebongkah batu yang berukuran tidak terlalu besar sebagai tanda dan semuanya rata dengan tanah cukup berbeda dengan di Indonesia yang terlihat mewah, dibangun menggunakan keramik bahkan sampai ada yang dibangun seperti rumah komplit dengan pagarnya. Lain ladang, lain belalang. Setiap tempat memiliki budaya dan aturan masing-masing. Lanjut lagi, kita hampir tiba ditujuan terakhir ziarah hari ini yaitu Museum Haramain. Sebelum sampai ke Museum kita melewati beberapa tempat yang menarik di Makkah. Salah satunya Gedung Liga Muslim Sedunia, eits ini bukan tempat untuk bermain sepak bola ya tapi ini adalah gedung dimana para penghafal Al-Qur'an berkumpul dan di sini tempat untuk menyeleksi para imam besar di Masjidil Haram. Keren kan tempatnya?! Sayang tempat ini tidak boleh untuk umum jadi kami hanya lewat saja. Tak jauh dari gedung Liga Muslim Sedunia tadi, di sini mulai ada pemukiman penduduk tapi tidak begitu banyak mungkin hanya satu komplek saja dan pertokoan terletak lumayan jauh dari pemukiman penduduk tadi.
Beberapa ratus meter dari Museum, ada sebuah bangunan kecil yang menurut cerita muthowwif  itu adalah bangunan yang angker. Nah baru kali ini saya mendengar cerita angker dari tanah Arab. Menurut cerita warga setempat, bangunan itu tidak bisa dirobohkan entah kenapa selalu saja ada yang menghalangi jika ada yang mau merobohkan bangunan tersebut sebab bangunan tersebut adalah rumah para jin sehingga orang-orang selalu gagal menghancurkannya. Hehe seram juga ya. Yah kita lupakan dulu cerita seramnya, sekarang kita menuju destinasi akhir kita yaitu Museum Haramain. Museum Haramain adalah museum dua mesjid suci yaitu Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi. Di sini terdapat berbagai struktur pendukung bangunan yang dulu dipakai oleh Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi seperti pintu Ka'bah, Maqam Ibrahim, sumur zam-zam, dan lainnya. Di sini juga kita bisa melihat cara membuat kiswah dan juga miniature Masjidil Haram pada tahun 2025 mendatang dan Mesjid Nabawi. Saya sangat menyukai tempat ini karena kita bisa melihat bagaimana perkembangan Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi. Setelah selesai mengunjungi museum, kita akan diberikan Al-Qur'an sebagai cenderamatanya. Alhamdulillah saya dapat 2 buah Al-Qur'an hehe..
Ziarah ke tempat-tempat bersejarah hari ini telah selesai, walaupun sudah berkeliling ke beberapa tempat kami masih ada waktu untuk melaksanakan shalat dzuhur di mesjid. Alhamdulillah jadi masih bisa memaksimalkan untuk beribadah di Masjidil Haram..
Dari perjalanan tadi saya perhatikan, di sini tidak begitu ramai dengan gedung-gedung bertingkat seperti Mall, pertokoan atau Apartment. Walaupun ada semuanya dilokasikan di wilayah tertentu namun saya tidak melihat begitu banyak para pejalan kaki yang berlalulalang di sekitaran jalan, di Taman bermain pun saya tidak melihat ada anak-anak yang sedang bermain di sana. Ya, itu hanya sekilas hasil pengamatan saya selama di perjalanan. Menarik dan menambah pengetahuan baru tentang budaya setempat.
Besok sudah hari terakhir di Makkah, waktu memang cepat sekali berlalu...

(bersambung...)

Sunday, May 3, 2015

Kick Andy: Episode "2 Mei" -- Sangat Menyentuh Hati

Hari ini saya menonton re-run tayangan Kick Andy di Metro TV. Kali ini, Bang Andy mengangkat tema mengenai guru dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei lalu. Para guru yang menjadi tamu di Kick Andy merupakan guru yang luar biasa dibalik keterbatasan yang mereka miliki. Mungkin secara fisik mereka tidak sempurna tapi niat mereka untuk mengabdikan dirinya sebagai pengajar itu yang sempurna. Saya sangat kagum dengan mereka walaupun saat ini masih berstatus sebagai guru honorer dan mendapatkan gaji yang tidak sebesar guru-guru yanh sudah diangkat menjadi PNS, tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap mengajar dengan sepenuh hati demi kemajuan siswa-siswinya. "Saya ikhlas saya tidak dibayar karena saya teringat tokoh pendidikan seperti Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantoro para pahlawan pendidikan, mereka ikhlas mengajar tanpa dibayar yang terpenting hanya demi kemajuan bangsa, hanya untuk mencerdaskan anak bangsa", ucap pak Untung (Salah satu narasumber yang merupakan pengajar Agama di salah satu sekolah di Sumenep, Madura).
Bisa menerima keadaan yang secara fisik tidak sempurna dengan lapang dada, penuh keikhlasan dan bisa turut berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa itu merupakan hal yang luar biasa menurut saya karena terkadang orang yang memiliki kesempurnaan fisik saja masih sering mengeluh sehingga melupakan hal-hal yang seharusnya bisa disyukuri dengan kesempurnaan yang telah dimiliki.
Banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil dari episode kali ini salah satunya untuk selalu bersyukur dan bersyukur atas semua nikmat yang telah diperoleh. "Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman) dan berusaha untuk menjadi sebaik baiknya makhluk yaitu makhluk yang bermanfaat bagi sesama. Amiin

Sunday, April 19, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 2)

Hari kedua di Makkah Al Mukarramah..
Hari ini kami diberi kebebasan untuk menentukan acara kami sendiri tentunya kesempatan ini tidak kami sia-sia kan untuk memaksimalkan ibadah di Masjidil Haram. Di sana kami melaksanakan Shalat Fajr (Subuh) sekitar pukul 4.43, karena masih terbawa suasana di tanah air dengan santai kami berangkat pukul 3.30 dari hotel yang jaraknya kurang lebih 300 meter dengan Masjidil Haram dan ketika kami sampai dipelataran mesjid dari kejauhan pintu mesjid sudah ditutup. Saya kaget karena saya pikir ini masih 1 jam sebelum shalat tapi saya dan keluarga saya tidak mendapatkan tempat di dalam mesjid. Akhirnya saya dan ibu saya shalat di pelataran mesjid dan kakak serta ayah saya shalat di lantai paling atas. Ini merupakan pelajaran penting yang kami dapatkan. Pertama, di sini kami diharuskan untuk belajar lebih disiplin lagi dalam beribadah yang tentunya disiplin ini harus tetap kami terapkan ketika pulang ke tanah air nanti. Kedua, mengenai semangat untuk beribadah ya ini sangat terlihat jelas semangat orang-orang yang datang untuk beribadah ke Masjidil Haram, mereka berbondong-bondong datang 2-3 jam sebelum waktu shalat tiba. Kalau kita bandingkan dengan yang terjadi di tempat kita itu bisa dibilang jauh sekali ya semangat ke mesjidnya. Malah udah tinggal 5 menit lagi sebelum waktu shalat mesjid masih kosong masya Allah berbeda sekali ya? Mudah-mudahan semangat ini bisa terus terbawa dimana pun kita berada amiin.
Setelah Shalat Subuh berjama'ah di mesjid, saya dan ibu saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Di sepanjang jalan ada banyak toko-toko yang menjual makanan. Semua toko dipenuhi oleh  para pembeli, saya pun menjadi penasaran untuk mencicipi jajanan khas Timur Tengah. Akhirnya saya mencoba kebab, ternyata kebab di sana sama seperti hot dog. Jadi kebab di sana dengan kebab di sini berbeda jenis. Dari segi rasa, hmm filling rotinya sedikit hambar cukup berbeda ya dengan Indonesia yang rasanya kaya akan bumbu. Kebab-nya saya kasih nilai 6 dari 10. Kebab yang saya beli isi nugget ayam dan ayam bumbu kari. Harga kebab-nya itu 4 Real/ buah.
Saya dan ibu saya melanjutkan perjalanan menuju hotel. Selesai shalat subuh sekitar pukul 5.30 dan kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di kamar, mungkin karena terlalu lelah kami pun tertidur sejenak dan terbangun pukul 6.30 WSA. Hampir saja kami melewatkan jam makan pagi. Jadwal makan pagi di hotel kami mulai pukul 6.00 - 8.00 WSA. Peserta harus mengikuti jadwal makan tepat waktu karena jika sudah lewat dari jadwalnya semua makanan sudah habis dibuang. Makan itu penting untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit jadi jangan sampai melewatkan jam makan.
Karena hari ini kami diberi kebebasan, jadi kami habiskan waktu di Masjidil Haram untuk mengikuti shalat berjama'ah dan melaksanakan Thawaf Sunnah. Di Masjidil Haram, setiap kita selesai melaksanakan Shalat Fardhu, kita akan melaksanakan shalat Jenazah. Sehari berarti kita melaksanakan shalat jenazah 5x setiap harinya. Banyak orang yang ingin sekali di-shalat-kan di Masjidil Haram termasuk saya hehe. Pelajaran yang dapat kita ambil dari hal ini adalah mengingatkan kita bahwa kematian itu datang kapan saja dan kepada siapa saja yang waktu di dunia nya sudah habis. Jadi, kita harus mempersiapkan bekal kita dari sekarang, mulai dari detik ini juga karena kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita habis di dunia ini..
Setelah sarapan sekitar pukul 10.00 WSA kami sekeluarga pergi ke mesjid dengan harapan bisa melaksanakan Thawaf Sunnah terlebih dahulu selain itu juga supaya kami dapat tempat untuk shalat dzuhur di dalam mesjid syukur syukur kalau bisa dapat di dekat Ka'bah. Saya dan ibu saya pergi ke mesjid terlebih dahulu, kakak dan ayah saya menyusul. Ketika sudah mulai Thawaf Sunnah, kakak saya dan ayah saya datang. Kakak saya melindungi saya dan ibu saya, mengingat di sana sudah mulai padat. Pada saat putaran ke-4 terlihat ada celah kosong ke arah Ka'bah. Alhamdulillah.. akhirnya kami sekeluarga bisa mendekati Ka'bah, betul-betul sangat dekat dan bahkan saya bisa menyentuhnya. Saya terharu sampai-sampai menitihkan air mata. Timbul suatu perasaan yang sulit saya ungkapkan. Di sana saya bertemu dengan seorang perempuan sepertinya kebangsaan Turki, dia meminta saya untuk mengambilkan foto dirinya di depan Ka'bah. Ibu tersebut ingin mengabadikan moment di depan Ka'bah. Saya pun meng-iya-kan permintaan ibu tersebut. Di foto ibu tersebut terlihat sangat bahagia walaupun matanya masih sembap mungkin karena terharu. Kemudian setelah selesai, ibu tersebut mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi saya. Entah kenapa selama saya di sini saya sering mendapatkan ciuman dari ibu-ibu kebangsaan Turki hehe.. Semoga saya bisa dapat jodoh orang Turki (*eh) -- tapi kalau ada yang mau bantu meng-amiinkan boleh :)
Setelah selesai Thawaf Sunnah, saya dan ibu segera mencari tempat dekat Ka'bah alhamdulillah kami dapat tempat depan Ka'bah. Kami kebagian tempat yang tidak tertutupi oleh atap jadi sinar matahari langsung menyoroti kami. Panas memang panas namun kami mengingat kembali ucapan pak Aam bahwa segala sesuatu yang terjadi di "luar kendali" kita, kita harus sabar dan anggap saja sebagai penyempurna ibadah. Dengan berusaha mengikhlaskan hati terkena sorotan sinar matahari yang cukup panas, dan ketika waktu shalat datang tiba-tiba panas pun mulai berkurang dan berubah menjadi teduh tidak panas sama sekali. Masya Allah. Memang benar ya, kalau kita ikhlas dan sabar dengan keadaan bagaimanapun Allah pun memberikan kemudahan. Jadi kami bisa shalat Dzuhur dengan nyaman. Alhamdulillah.

(bersambung...)

Saturday, April 18, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 1)

Selama ini Bandung adalah kota favorit saya dan saya selalu merasa berat hati jika harus meninggalkan kota kembang yang indah ini. Bandung memiliki cuaca yang "ramah", suhunya tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin sehingga membuat betah setiap penghuninya, dan kondisi lingkungannya pun selalu membuat saya rindu jika saya sedang berada di luar Bandung. Tak jarang saya mengeluh ketika saya sedang pergi mengunjungi kota lain, banyak hal yang saya keluhkan baik cuacanya, lingkungannya dll, misalnya seperti Jakarta. Jujur saja saya tidak suka dengan cuaca di kota Jakarta yang panas dan tanpa adanya angin. Rasanya gak betah untuk berlama-lama tinggal di sana.
Maaf ya untuk warga Jakarta, no offense hehe.
Namun, ada dua kota, yang baru-baru ini saya kunjungi, yang membuat saya takjub dan membuat saya betah hingga rasanya tidak ingin meninggalkan kota tersebut. Kota tersebut adalah kota Mekah dan Madinah. Kedua kota itu merupakan dua kota suci bagi umat muslim. Siapapun yang sudah pernah pergi ke sana pasti ingin kembali lagi, kembali lagi, dan kembali lagi ke sana termasuk saya. Ingin rasanya bisa mengunjungi kedua kota tersebut tiap tahun bahkan tiap bulannya aaammiiin...
Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke tanah suci dan saya pun langsung jatuh cinta dengan kedua kota tersebut dan banyak sekali cerita menarik yang saya dapatkan dari sana. 

Sejak akhir tahun lalu, keluarga kami telah merencanakan untuk pergi beribadah umroh pada bulan April di tahun 2015 ini. Mulai dari beberapa bulan sebelumnya kami pun mencari tahu mengenai biro perjalanan mana saja yang menyelenggarakan ibadah umroh. Setelah berdiskusi, mencari info sana sini, mempertimbangkan plus-minus-nya dan mendapatkan berbagai rekomendasi akhirnya kami memutuskan untuk ikut biro perjalanan dari Percikan Iman yaitu Percik Tours and Travel yang terletak di Jalan Taman Citarum no 9 Bandung, belakang Mesjid Istiqomah. Fasilitas yang kami dapatkan dari pihak Travel sudah cukup lengkap mulai dari kain seragam, 2 buah kerudung Malaya (untuk perempuan), 1 kain ihram (untuk laki-laki), koper, tas kecil, tas sandal/sepatu, ID card, dan pin. Ada poin penting saya suka dari travel ini dan perlu diperhatikan yaitu pada ID Card. ID Card yang akan kami kenakan nanti sebagai ID penganti paspor, di ID card yang kami dapatkan sudah tertera nama hotel dan nomor telfon pembimbing kami selama di sana jadi tidak perlu terlalu khawatir ketika nanti di sana mengalami disorientasi. Hal ini merupakan hal yang kadang terlupakan karena saya mendapatkan beberapa cerita dari orang-orang yang telah melaksanakan umroh sebelumnya merasa kesulitan ketika mereka mengalami disorientasi dan kesulitan menemukan hotel karena hampir sebagian dari mereka meremehkan hal ini dengan tidak mengingat nama hotel dan tidak menyimpan nomor pembimbing. Yap, ini adalah poin plus buat Percik Tours and Travel.
Satu minggu sebelum keberangkatan, semua peserta mengikuti bimbingan sebelum umroh. Di sini kami diperkenalkan dengan pembimbing yang akan membimbing kami selama di tanah suci. Pembimbing kami saat itu adalah Bapak Priyatna Muchlis Nurdin, beliau biasa di sapa Pak Ayat. Bapak Ayat memberikan berbagai penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan dilarang secara detail. Selain itu, pada saat manasik ini para lelaki diajarkan bagaimana mengenakan kain ihram yang baik supaya nanti ketika sedang melaksanakan ibadah umroh bisa benar-benar khusyuk tanpa mengkhawatirkan lagi pakaian ihram-nya bakal terlepas mengingat tidak boleh ada jahitan dalam pakaiannya jadi harus benar-benar dipakai dengan cara yang baik. 
Buku do'a baru kami dapatkan ketika kami mengikuti manasik ya waktu buat menghafalkan do'a-do'anya sekitar 10 hari. Saya sempat rada pesimis saat melihat banyaknya do'a yang harus saya hafalkan hehehe ganbatte!
Tak terasa hari keberangkatan kami untuk beribadah umroh pun datang. Selasa dini hari pukul 3 pagi kami sudah berkumpul di Percikan Iman. Sebelum keberangkatan pak Aam Ammirudin memberikan sambutan dan menyampaikan beberapa hal sebagai bekal kami di sana. Pak Aam terus mengingatkan kami untuk terus mensyukuri dan bersabar ketika kami baik dalam perjalanan maupun sudah sampai di sana mengalami hal yang di luar ekspektasi kita. "Anggap saja itu semua sebagai penyempurna ibadah", ucap pak Aam dan pesan inilah yang terus kami ingat.
Kami pun siap berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta...
Perjalanan pun dimulai, semua peserta masuk ke dalam bis. Tak lupa sebelum berangkat pembimbing membimbing kami untuk membaca do'a safar. Shalat subuh pun dilakukan didalam bis karena kami sudah berangkat dari pukul 3.30 pagi. Perjalanan Bandung-Jakarta alhamdulillah lancar, tak ada hambatan yang berarti. Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih pukul 8.30 pagi. Setelah proses imigrasi kami semua pun beristirahat di lounge sambil sarapan pagi. Pukul 11.00 WIB kami sudah bersiap untuk check-in dan kemudian kami pun siap berangkat. Pesawat yang kami gunakan adalah Garuda Airlines (GA 980), pesawat ini langsung membawa kami menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Saudi Arabia tanpa transit. 

Ini adalah pengalaman pertama saya bepergian menggunakan pesawat terbang, deg-deg-an. Perjalanan Jakarta-Jeddah menghabiskan waktu kurang lebih 9 jam. Lumayan lama ya dan pastinya pegel juga duduk di pesawat selama itu. Saya mendapatkan posisi duduk di sebelah jendela jadi saya bisa melihat pemandangan dari atas awan.. Jeddah, here we go! 
Oiya, karena kami akan langsung untuk melaksanakan ibadah umroh jadi kami melakukan ihlal ihrom-nya di atas pesawat ketika melewati Yalamlam, kurang lebih 25 menit sebelum landing. Alhamdulillah sekitar pukul 17.30 WSA kami telah tiba di Bandara khusus Haji King Abdul Aziz, Jeddah. Di sana kami dijemput oleh shuttle bus menuju tempat imigrasi. Setelah proses imigrasi selesai kami mulai mengambil koper. Kemudian tim Percikan Iman dari Arab Saudi pun datang, yaitu kang Arsyad dan kang Roni, mereka dengan sigap mengurusi koper-koper yang kami bawa menuju bus yang akan membawa kami menuju tanah Haram, Mekah. Di dalam bus, kami diberi snack yang berupa roti croissant, merk 7 days dan minuman buah segar, merk Caesar. Ketika saya mencicipi roti yang diberikan oleh panitia mata saya langsung berbinar-binar. Rasa roti cokelatnya benar-benar enak, enak banget. Baru pertama kali nyoba roti cokelat seenak ini ya ampun. Rasa cokelatnya itu yang bikin jatuh cinta hehe.. Setelah kenyang menikmati roti cokelat, tanpa sadar saya tertidur di perjalanan menuju hotel di Mekah. Ketika saya membuka mata saya sudah hampir tiba di hotel. Oiya, perjalanan dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah ke Mekah memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. 
Akhirnya kami pun tiba di hotel, kami istirahat sejenak dan makan malam terlebih dahulu. Menu makan malam di hotel ini sangat Indonesia tapinya dengan bumbu khas Arab. Menu makan malam kali ini membuat saya sangat selera untuk makan karena sang koki menghidangkan cumi-cumi sebagai menunya. Alhamdulillah.. saya sangat suka cumi-cumi jadi saya sangat bersemangat ketika melihat hidangan makan malamnya. YES! hehe
Hotel yang kami tempati di kota Mekah cukup kecil, orang bilang sih seperti losmen bukan hotel, tapi jaraknya yang dekat dengan Masjidil Haram dan posisinya tepat di pinggir jalan sangat memudahkan kami. Jadi kalau buat saya tidak jadi masalah. That wasn't a big deal because the most important things were we could find our hotel easily and this hotel served many delicious Indonesian food. That's enough.
Setelah kami selesai makan malam, kami bersiap menuju Masjidil Haram untuk beribadah umroh. Para lelaki pun sudah siap mengenakan kain ihram yang telah dipakainya dari pesawat ketika miqat di Yalamlam. 
Di Lobby Tsarawat Qasr Hotel, bersiap menuju Masjidil Haram
Selama perjalanan menuju Masjidil Haram, kami terus ber-talbiyah, "Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik, Innal Hamda Wan-ni'mata Laka Walmulk, Laa Syarika Lak". Kami terus ber-talbiyah hingga kami melihat Ka'bah. Ketika melihat Ka'bah untuk pertama kalinya, Subhanallah.. Sungguh luar biasa, saya tidak percaya. Saya bisa melihat yang selama ini menjadi kiblat kita ketika shalat di depan mata saya. Hal ini seperti mimpi yang jadi kenyataan masya Allah. Ka'bah adalah bangunan pertama yang dibangun di muka bumi ini. Saya benar-benar terharu bisa melihat Ka'bah secara langsung, speechless. Bagi kalian umat muslim, baiknya kalian menyimpan agenda untuk mengunjungi tanah Haram ini sebagai destinasi utama dan pasti nantinya ingin berkali-kali untuk kembali ke sana. Tidak tahu mengapa seperti ada daya tarik yang sangat kuat ketika kita sedang berada di sana. Setelah melaksanakan serangkaian ibadah umroh, ada perasaan senang, senang karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi tanah suci ini. Walaupun ketika sampai kami langsung melaksanakan ibadah umroh, kami semua tidak merasakan lelah sedikit pun. Saya memperhatikan beberapa teman serombongan lainnya tampak wajahnya yang berseri-seri karena bahagia bahkan salah satu peserta yang paling senior di antara kami pun tidak mengeluh sedikitpun dan tetap terlihat semangat. Syukur alhamdulillah.
Setelah selesai Tahalul di pelataran Masjidil Haram

 Alhamdulillah... Hari pertama di Mekah, kami habiskan dengan rasa penuh syukur, dan bahagia..

(bersambung...)          

Sunday, February 1, 2015

A Life Lessons in Selling Pineapple

A Life Lessons in Selling Pineapple!

Several weeks ago, I found this video from my lecturer's timeline in his Facebook. I just wondered what kind of video it was then I clicked it to watch this video. This video told about a mother, her daughter, and pineapple. In the opening, the mother told that she didn't go to school and she said she didn't know how to teach her daughter. The only thing that she could do was showing her daughter by giving an example. She thought giving an example was the best way to teach her daughter.
You should watch this video..
Believe or not, teaching will be more  more effective by giving them an example directly than giving only theory.
For parents, I highly recommend you to watch this video.
Just clicked this link below.

Friday, January 2, 2015

Yuk, Kita Berhijab!

Hari ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya menggunakan hijab. Hehe saya terinspirasi menulis tentang ini karena beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman sebuah buku bagus yang membahas mengenai hijab, judulnya "Yuk, Berhijab". Buku ini ditulis oleh Ustad Felix Siauw. Hmm ini adalah buku kedua yang saya baca dari karya Ustad Felix Siauw. Buku ini memaparkan secara rinci mengenai hijab, menariknya bab pertama dari bab ini membahas mengenai bagaimana perempuan dalam Islam mulai dari peradaban Yunani Kuno hingga sekarang. Sungguh melegakan karena Islam benar-benar agama yang memberikan perlindungan dan keistimewaan bagi kaum perempuan, Subhanallah...
Bab selanjutnya mulai membahas mengenai hijab dalam Islam, perintah menutup aurat itu sebenarnya adalah perintah Allah SWT. Perintah ini sudah jelas, terdapat pada surat An-Nuur (24) ayat 31, Allah berfirman:


"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."    
Betapa jelasnya perintah Allah SWT bagi kaum perempuan untuk menutup aurat. Ketika pengetahuan saya tentang agama belum cukup mendalam dan belum banyak mencari tahu tentang hal ini saya berpikir bahwa menutup aurat adalah pilihan jadi kita boleh memilih untuk mengenakan hijab atau tidak namun setelah saya mencari tahu ternyata saya salah besar. Perintah menutup aurat sudah jelas tercantum dalam Al Quran, menutup aurat merupakan suatu kewajiban bagi seorang perempuan muslim yang sama wajibnya dengan perintah untuk sholat. Nah, sekarang saya akan berbagi pengalaman saat saya dulu memutuskan untuk mengenakan hijab.
Saya baru mengenakan hijab pada tahun 2009, tahun kedua saya masuk dunia perkuliahan. Saat itu, ada mata kuliah agama Islam yang mengharuskan setiap mahasiswa dan mahasiswinya mengikuti mentoring (pendalaman agama dengan para senior). Mentoring ini dibagi ke dalam beberapa kelompok dan jadwal untuk mentoring bisa dibilang fleksibel mengikuti jadwal kuliah yang kosong. Awalnya, saya berada di kelompok 10 (kalau saya tidak salah mengingat hehe) namun karena sang kakak mentor sering kali berhalangan hadir jadi saya memutuskan untuk pindah kelompok ke kelompok sahabat saya. Ketika pertama kali saya mengikuti mentoring di kelompok yang baru saya merasa nyaman, selain ada sahabat saya hehe, kakak mentornya pun bisa menyampaikan materi dengan menarik tanpa terkesan mengajari. Oiya, setiap masuk pelajaran agama Islam para perempuan diwajibkan memakai kerudung, hanya untuk mata kuliah itu saja. Otomatis satu minggu sekali kami mengenakan kerudung tapi hanya pada saat mata kuliah agama saja hehehe. Mentoring pun terus berlanjut, tak jarang saya menanyakan beberapa hal kepada sang mentor yang saya belum pahami. Suatu saat, kakak mentor saya membahas mengenai hijab. Penjelasan panjang lebar pun ia berikan, berharap kami mengerti. Di akhir pertemuan tersebut, kakak mentor saya pun bertanya pada kami sambil tersenyum, "So, kapan nih mau mulai pake hijab? Kan ayatnya udah jelas, ada loh di Al-Qur'an...hehehe". Sontak kami pun kaget dan malu, ada yang mulai senyum-senyum sendiri, dan ada yang mengatakan "Saya belum siap teh, mending hatinya aja dulu deh yang 'dikerudungin'. hehe", beberapa mengangguk menyetujui hal itu. Kakak mentor pun menjawab, "Kan bisa, sambil ditutup auratnya, sambil dijaga juga hatinya malah karena udah pake kerudung jadinya kan bisa menjaga kelakuan kita, kan? Hayo!". Tak cukup sampai di situ yang lain pun mulai berkomentar, "Kan malu teh, udah pake kerudung eh terus taunya dilepas lagi mendingan nantikan pas kita udah bener-bener siap jadi ga pasang copot, pasang copot lagi. hehe". Kakak mentor pun sabar menjawab, "Siapnya kapan? Emang ade tau umurnya bakal sampe kapan?", lalu salah seorang teman saya pun berkomentar, "saya mau pake hijab nanti kalo udah nikah teh,hehe".. Kakak mentor pun menjawab lagi "Nanti kalo udah keburu dipanggil gimana?, tau ga kalo kita sampe meninggal terus kita belum pake hijab itu bisa masuk neraka dan ga cuma itu, sebenernya buat kita yang belum nikah kita bisa menyeret ayah kita ke dalam neraka. Satu langkah kita keluar tanpa menutup aurat, itu berarti satu langkah kita menyeret ayah kita ke dalam neraka. Hayo coba, tega ga nyeret ayah kita ke neraka?" Ya, semoga aja masih ada umur ya sampe nanti kamu nikah hehe". Mendengar jawaban tadi kami semua pun terdiam. Pertemuan selanjutnya, sang kakak mentor tak lelah menanyakan hal ini kepada kami walaupun beliau tahu bahwa kami masih ogah-ogah mengenakan kerudung yang kami ketahui bahwa itu hukumnya wajib bagi seorang perempuan muslim. 
Lama-lama saya pun menjadi penasaran sangat penasaran kenapa sih kakak mentor ku yang satu ini getol banget ngingetin kita buat pake kerudung. Suatu ketika akhirnya saya pun menemui kakak mentor saya dengan ditemani sahabat saya, yang sudah dari SMP mengenakan hijab. Di sana saya menanyakan banyak hal dan beberapa kemungkinan yang saya takutkan akan terjadi jika nanti ketika saya telah memutuskan mengenakan hijab. Dengan sabar kakak mentor saya menjelaskan dengan perlahan. Hal yang saat itu saya takutkan adalah saya takut bagaimana jika nanti saya sudah mengenakan hijab saya memutuskan melepaskannya, malu banget apa kata orang? Kakak mentor saya pun menjelaskan, bahwa memang mengenakan hijab itu membutuhkan proses. Jadi kalau mau perlahan-lahan ya enggak apa-apa, yang penting niat kita lurus karena Allah semata untuk melaksanakan perintah-Nya. Sepulang dari pertemuan tersebut hati saya mulai gelisah gak karuan, saya tidak tenang sama sekali. Saya berpikir jika memutuskan saya takut kalo nanti baru berapa hari kemudian dicopot gimana? Aduh, tapi kalo besok udah dipanggil sama Allah pulang ke rahmatullah gimana? aaaaaaa... semalaman itu saya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak, sampai akhirnya saya mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kakak mentor tersebut yang berisi, "Teh, saya mau pake kerudung. Mohon bimbingannya ya teh. Bismillah." Kakak mentor saya pun menyambut bahagia akan keputusan saya tersebut. Beliau membalas, "Alhamdulillah, iya insya Allah semoga Allah mengistiqomahkan niatmu ya dan semoga ini bisa menjadi amal kebaikan buat ade." Kegelisahan saya pun berangsur-angsur hilang. Saya berdoa agar dikuatkan niat saya tersebut untuk menutup aurat.
Keesokan paginya, saya pun meminta izin kepada ibu saya bahwa saya akan mengenakan kerudung ternyata responnya di luar dugaan. Ibu saya menanyakan keputusan saya ini sampai berkali-kali karena ibu saya tidak mau ketika saya sudah berkerudung kemudian memutuskan untuk melepaskannya kembali dan kembali menyerahkan keputusan kepada saya sendiri. Namun saat itu ibu saya terlihat tidak begitu setuju dengan keputusan saya ini. Walaupun begitu, saya tetap mantap untuk menutup aurat. Berbeda dengan ibu saya tadi, sahabat seperjuangan saya menyambut baik keputusan saya ini. Ia memberikan sebuah buku mengenai jilbab untuk mencari tahu lebih dalam.
Niat baik memang banyak sekali tantangan dan godaannya, ya saya harus melewati ujian di saat pertama kali saya memutuskan mengenakan kerudung ini. Beberapa hari kemudian, setelah saya memutuskan berkerudung dukungan dari ibu saya pun masih tak kunjung datang. Bahkan tak jarang kakak saya pun mengejek saya ketika memakai kerudung saya terlihat seperti ibu-ibu, nenek-nenek, bibi-bibi pokonya sesuatu dengan maksud mengejek. Saya sempat merasa tertekan karena saya tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat saya, yaitu keluarga. Betapa sedihnya, hampir setiap hari saya menangis untungnya selain Allah telah mengistiqomahkan hati saya, saya juga memiliki sahabat yang terus membantu menguatkan niat saya ini. Saya sangat sedih, pernah suatu waktu pada saat saya akan pergi bersama ibu saya, ibu saya mengatakan "hmm jadi ibu harus pake kerudung juga kalo pergi sama kamu." Saya sangat kaget mendengar perkataan ibu saya tersebut, bagaimana tidak seolah-olah kerudung ini menjadi suatu beban jika ibu saya pergi bersama dengan saya. Sedih sekali, sampai saya sempat merasa pake kerudung ini merupakan keputusan yang salah buat saya karena seperti sebuah beban bagi ibu jika berada bersama saya. Alhamdullilah, Allah telah memberikan saya seorang sahabat yang hebat yang tak henti-hentinya menyemangati dan menguatkan saya dan kamu tahu apa? setelah beberapa bulan saya mengalami hari yang cukup berat mengenakan kerudung, berangsur-angsur ejekan dari kakak saya pun tak lagi dilontarkan dan ibu saya pun mulai mengenakan kerudung dengan kemauannya sendiri. Alhamdulillah...
Memang ya kalau kita tetap istiqomah melaksanakan perintah-Nya asal karena Allah semata, insya Allah Allah akan memudahkan jalan kita.  
Jujur, sampai sakarang saya terus mencari tahu bagaimana cara berpakaian yang sebenarnya sebagai seorang muslimah. Di awal-awal mengenakan kerudung saya masih buka copot di dalam rumah, saya masih lupa pakai kerudung kalau pergi ke teras rumah bahkan saya pernah membiarkan seseorang yang bukan mahram saya melihat saya tanpa mengenakan kerudung. Astagfirullah. Masa-masa itu saya anggap sebagai masa jahiliah saya, masa kebodohan. Bersyukur sekarang sudah sedikit demi sedikit meluruskan niat kembali untuk siapa sebenarnya saya mengenakan hijab ini kalau bukan untuk Allah semata.
Namun, ya setiap perubahan itu butuh proses mungkin hanya membutuhkan waktu yang pendek atau bahkan waktu yang cukup panjang. Yang terpenting dari semua itu adalah niatnya kita mau berubah menjadi baik dan lebih baik lagi. Walaupun ada badai besar yang menghantam, kalau niat kita kuat karena Allah SWT insya Allah kita akan dibukakan jalan untuk terus istiqomah.. 
Oiya, ada hal yang ingin saya tambahkan mengenai perempuan yang sudah berkerudung namun yang katanya dirasa kurang pas, janganlah kita menghakimi mereka apapun dan bagaimana pun cara berpakaian dan tingkah laku mereka tidak usah kita hiraukan semuanya bergantung kepada niatnya masing-masing dan hal itu yang akan dipertanggungjawabkan oleh kita masing-masing secara pribadi. Baiknya kita hargai saya upaya mereka untuk menutup aurat. Dan mereka yang menutup aurat lebih baik dari mereka yang belum menutup aurat. So, hayo kapan nih siap untuk berhijab? 
Semoga tulisan ini bermanfaat.. Aamiin

Sunday, December 14, 2014

Kembali Menulis!

Menulis adalah sesuatu hal yang menyenangkan bagi saya karena saya bisa menuangkan semua ide yang ada di dalam pikiran saya menjadi suatu tulisan. Dalam menulis saya tidak begitu peduli memikirkan apa yang orang lain pikirkan mengenai tulisan saya, kecuali untuk kepentingan tertentu. Saya suka sekali menulis apalagi ketika saya mengalami hal baik yang menyenangkan maupun menyebalkan dan saya lebih suka mengabadikan momen yang menurut saya penting dalam sebuah tulisan dan foto. Saya suka membaca ulang tulisan - tulisan yang pernah saya buat dan tak jarang saya pun tertawa membaca tulisan saya itu dan hal itu bisa menolong saya untuk lebih bisa mengenal siapa diri saya. Bagaimana saya meluapkan rasa bahagia yang saya rasakan, bagaimana saya meluapkan rasa kekecewaan saya dan juga bagaimana perasaan saya ketika melihat berbagai kejadian yang terjadi di lingkungan sekeliling saya. Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan "Jika kita ingin hidup sangat lama di dunia ini... menulislah, karena kita akan tetap hidup dalam setiap tulisan yang kita buat dan ketika orang lain membacanya hal itu membuat kita tetap hidup." Ya kita akan tetap hidup dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Selain itu, dengab setiap tulisan yang kita buat akan membuat kenangan yang ingin simpan tetap hidup. Sebuah foto memang bisa mengabadikan sebuah momen dengan jelas namun jika kita tidak menuliskan cerita di bawahnya beberapa puluh tahun setelah kita mengambil foto tersebut mungkin kita akan lupa tentang kejadian yang terjadi saat itu. Namun, bila kita menuliskan cerita dalam setiap foto yang kita ambil akan membantu kita dalam mengingat semua kejadian, semua kenangan yang ada dalam foto tersebut. Hal itu bisa membuat kita seolah olah kembali ke masa tersebut dan kita memiliki kenangan untuk diceritakan kembali kepada anak cucu kita. Masih banyak hal lain keuntungan yang saya dapatkan dari kesenangan saya ini.
Jadi mungkin mulai dari sekarang saya akan memulai untuk mengisi kembali blog saya ini hehe kalau saya bisa ibaratkan blog saya ini seperti rumah kosong yang sudah lama ditinggal oleh penghuni rumahnya. Oleh karena itu, saat ini saya akan kembali mengisi 'rumah' yang sudah lama kosong ini. Ugh.. Saya harap saya bisa berkomitmen untuk terus mengisi blog ini ya hihi

Thursday, September 18, 2014

Called This as My First Experience

How does it feel when you do a job that you really like? It's fun, right?! Yeah, that's what I feel right now. Recently, I got a new job it has been a couple months. Still, teaching as an English teacher but the students that I was taught were difference. My students this time were Chinese. Yeah, for the first time when I started to teach them I was so nervous because we had a different culture. I had to adapt with them, yeah I  used my first week to make some approaches with them. Digging up what they liked, finding out the materials that they needed etc. Because that was my probation week. Hehe. You know that teaching kids we have to keep their good moods in order they can keep following our lesson. If we destroy their good moods, we will face some obstacles and we have to make their moods come back soon. Well, being a teacher is not easy, we have to make our students understand what we have been already taught and, for the bonus, they can earn the perfect score.
This is my first experience teaching a foreign students, and it's very challenging. I have to make adaptation with the Singapore curriculum. Our country has a different point of view for the materials that has been used in the curriculum with the Singapore. That's why I regard my teaching experience this time is so challenging. Besides, I have to adapt with their culture, I have adapt with their curriculum. Great! I really like my job this time. Every time, I have to push my brain to think. Making a plan, preparing for the worksheets, and thinking how to make the lesson fun. That's the three things that I have to prepare before I start to teach. Hehe though, sometimes I got stressed when I didn't find the match materials for teaching.
So far, I still can handle all the obstacles since I  can learn a lot from it. I'm glad inasmuch as  becoming their teacher for couple months they can accept me very well. The culture problem between us is no longer a big deal.. Alhamdulillah

You know being a teacher is insisting you to study harder. Thus, it's another way to make yourself smarter because you can't be foolish in front of your students, right?! Haha
Keep practicing, studying and keep listening...

Thursday, July 12, 2012

Perkenalkan nama saya 'Putri'

Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah surat undangan pernikahan dari salah satu teman saya. Tidak secara langsung sih, salah seorang teman menitipkan undangan itu untuk saya dan menyimpannya di kursi kelas. Awalnya, saya tidak begitu memperhatikan undangan karena saya sudah mengetahui siapa teman saya yang akan menikah jadi saya langsung memasukkannya ke dalam tas. Ketika saya akan memasukkan undangan tersebut, teman saya yang dari tadi memperhatikan tulisan bagian depan (pada bagian nama yang dituju) dia langsung tertawa. Saya heran mengapa dia tertawa melihat surat undangan itu, ternyata… pada surat undangan tersebut tertera nama “Elysa Putri Astuti”. Jelas saja mengapa teman saya itu tertawa-tawa melihat surat undangan itu karena nama tengah saya bukan itu.  Ha ha entah mengapa di sana dia (teman saya yang akan menikah) menuliskan nama “Putri” ck ck ck pertemanan selama bertahun-tahun tidak begitu menjamin seseorang itu bisa menghafal nama kita secara lengkap ya? (menghela nafas)
            Eh, mengingat nama ‘Putri’  ini membuat saya teringat akan suatu peristiwa ‘konyol’ sewaktu saya masih duduk di bangku kelas satu SMP. Begini ceritanya…
Sekolah saya itu dulu termasuk sekolah yang menganut sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dimana para siswanya dituntut untuk lebih aktif baik di dalam maupun di luar kelas dan peran guru ‘beralih menjadi’ fasilitator. Dengan alasan itu, sistem belajar di kelas pun menjadi sedikit berubah. Hampir di setiap pelajaran para siswa melakukan presentasi di depan kelas dan berdiskusi. Semua bahan diserahkan kepada siswa. Suatu ketika, guru geografi di kelas saya meminta para siswa menyiapkan beberapa kelompok untuk presentasi. Kelompok saya ‘sangat beruntung sekali’ mendapat giliran presentasi yang pertama. Woh! Coba bayangkan presentasi untuk pertama kalinya di depan kelas, di sekolah baru, perdana (belum ada pengalaman).
Saya dan teman-teman sudah mempersiapkan seluruh bahan sebaik mungkin, sematang mungkin. Tugas untuk menjelaskan materi pun sudah terbagi rata. Ketika hari presentasi itu datang (jeng jeng jeng), kami bersiap membereskan bangku untuk presentasi. Saat itu, saya duduk di bangku kedua dari terakhir (jumlah kelompok kami sepuluh orang, saya duduk di bangku ke-sembilan). Sang moderator mulai memberikan pembukaan, sebagai tanda akan dimulainya diskusi. (Deg, ketegangan itu mulai terasa) Satu per satu anggota dari kelompok kami mulai memperkenalkan diri. Saya (sangat fokus) memperhatikan teman sekelompok saya satu-per-satu memperkenalkan diri, sambil menunggu sampai giliran saya tiba. Ketika anggota ke-delapan, teman di sebelah saya, memperkenalkan diri “Nama saya Julianti”. (Kemudian tibalah giliran saya untuk memperkenalkan diri) Saya lalu berdiri dan memperkenalkan diri “nama saya Putri” (ket: nama lengkap teman sebelah saya tadi adalah Julianti Putri Setiawan). Saat itu saya benar-benar tidak sadar sampai teman-teman di kelas saya tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, saya sempat diam (sejenak) dan dengan polosnya merasa heran kenapa teman-teman sekelas saya tertawa. TERNYATA akhirnya saya sadar, kekonyolan apa yang telah saya lakukan, saya salah memperkenalkan nama saya sendiri (parah!) lalu saya berdiri kembali untuk meralat perkenalan diri sebelumnya. Aduh, benar-benar ya! Presentasi yang situasinya sedang tegang sepertinya langsung berubah menjadi panggung lawak. Hahaha.. Koneksi di pikiran saya saat itu nampaknya mengalami sedikit gangguan dan menjadi lambat karena rasa tegang yang datang secara tiba-tiba itu. Benar-benar konyol, saya akui (seringkali) sewaktu saya berada dalam situasi yang tegang saya (dengan tidak sadarnya) melakukan berbagai hal konyol (-__-“). TIDAAAAAKKK!
Maka dari itu, saat saya melihat nama tengah saya berubah menjadi ‘Putri’ (menghela nafas) hal itu mengingatkan saya akan kejadian konyol ini. Haduh, Putri Putri… harus bubur merah, bubur putih aja gitu ini mah (kalau-kalau) semua kekonyolan saya bisa hilang.HAHA mustahil!

Friday, June 1, 2012

Bersepeda -- Silly but seriously FUN!

Hari pertama di bulan Juni, hmm benar-benar tidak terasa sudah memasuki bulan keenam di tahun ini. Hari ini merupakan hari yang tidak biasa bagi saya alias luar biasa, mengapa? Karena hari ini adalah hari di mana saya pergi berpetualang dengan sahabat terbaik saya, the white iron horse! Ya, dia adalah sepeda berwarna putih kesukaan saya. Sepeda ini adalah sepeda hasil rakitan kakak saya, dulunya ini sepeda gunung kebanggaan ayah saya namun setelah beberapa tahun dia menjadi penghuni gudang dan bahkan nyaris dibuang untungnya semangat kakak saya untuk bersepeda muncul sehingga menyelamatkan sang sepeda dari debu-debu using. Kini, dia pun menjadi sahabat saya. Saya sudah berpetualang ke berbagai tempat dengan sahabat saya yang satu ini dan melalui berbagai kejadian tentunya seperti jatuh di tengah keramaian di hari Car Free Day (untungnya cara saya jatuh masih terbilang keren haha itu menurut teman saya, yang jelas saya benar-benar tidak bisa lupa akan hal itu dan selalu ingin tertawa jika mengingatnya kembali, seperti sekarang hahaha). Buasnya jalanan raya, memang membuat posisi para pengendara sepeda termasuk saya menempati hak ya mungkin yang diurutan bawah tapi itu tidak jadi masalah selama kami memiliki jalan walaupun di pinggiran yang nyaris masuk ke daerah para pejalan kaki, trotoar. Hal itu bukan masalah besar jika dibandingkan perasaan senang ketika bersepeda, entah mengapa jika mengendarai sepeda saya bisa jauh menikmati keadaan di sekitar jalan. Sulit untuk digambarkan karena lebih baik kalian merasakannya sendiri.
      Hari ini saya pergi berjalan-jalan bersama sahabat saya ini, rencananya saya ingin pergi mengunjungi teman saya. Posisi rumahnya itu berada antara Ciwastra dan Riung Bandung. Petualangan pun di mulai, saya berangkat dari rumah pukul Sembilan pagi. Helm pun sudah saya pakai dengan percaya diri dan mengingat rute yang pernah saya ambil akhirnya saya memilih untuk pergi lewat margahayu belakang. Pertanda akan nyasar sebenarnya sudah ditunjukkan dari awal keberangkatan saya. Ketika saya sedang dalam perjalanan (masih di Margahayu), saya sudah tersesat. Saya sedikit lupa jalan menuju Margahayu belakang itu kemudian saat sudah sampai di daerah Ciwastra perjalanan masih mulus karena hanya ada satu arah saja tetapi kemudian datanglah jalan bercabang, antara lurus dan belok ke arah kiri. Angkot yang saya jadikan petunjuk jalan pun tak kunjung tiba dan akhirnya dengan tekad yang bulat saya memilih jalan yang lurus setelah menempuh jalan beberapa ratus meter jalan tersebut terlihat bukan seperti jalan raya yang mungkin dilalui jalur angkutan umum. Saya pun mencari petunjuk jalan mencari tahu di mana keberadaan saya yang sebenarnya hingga saya menemukan toko material yang beralamatkan Jl. Terusan GBI no. sekian. Saya menyadari kalo ternyata saya salah mengambil keputusan dan memutar balik ke jalan cabang sebelumnya dan menunggu sang petunjuk jalan (angkot ujung berung-ciwastra) lewat. Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sang petunjuk jalan pun lewat, saya pun mengikutinya dari belakang. Walaupun jalan yang saya tempuh adalah jalanan yang lurus, saya tidak berani untuk mendahului angkot tersebut, ya mengingat saya sudah dua kali kesasar di awal perjalanan tadi. Ini secara tidak langsung feeling saya tidak begitu jitu dalam menentukan arah :|
Namun, ternyata feeling saya untuk tidak mendahului angkot BENAR! Haha (bersorak sorai) setelah beberapa ratus meter dari belokan sebelumnya sang angkot pun belok masuk ke sebuah jalan kecil. Jika saya mendahului angkot ini pasti dengan sotoynya saya mengambil jalan yang lurus dan saya akan kesasar untuk ketiga kalinya huahahaha tapi untungnya tidak. Dari sana, saya mulai berani untuk berjalan mendahului angkot karena itu adalah JALAN LURUS – tidak ada belokan sama sekali. Dengan sekuat tenaga saya terus mengayuh sepeda, sawah-sawah masih terhampar luas pemandangan yang menarik. Jalanan itu baru pertama kali saya lewati, jadinya masih terasa sangat asing. Setelah berjalan hampir satu atau dua kilo akhirnya saya tiba di rumah teman saya. Saya beristirahat sejenak di sana, berbincang-bincang. Kemudian tak terasa sudah waktunya Dzuhur, setelah shalat saya memutuskan untuk pulang. Teman saya menyarankan untuk pulang ke arah jalan yang berbeda yaitu melewati Santosa. Menurutnya rute itu jauh lebih dekat ketimbang jalan yang saya tempuh tadi (-__-“)  ya apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Saya pulang dengan menggunakan rute yang teman saya sarankan, memang benar jaraknya jauuuuuuh lebih dekat dari pada jalan yang tadi. Sekali lagi feeling saya memang tidak bisa diandalkan untuk masalah seperti ini, ketika sudah hampir memasuki jalanan yang saya kenal saya kembali mengalami ‘nyasar’. Istilah jalan kanan itu lebih baik dari jalan kiri itu memang benar ya, hahaha saya memilih belok ke kiri dan hasilnya saya nyasar untuk ketiga kalinya.
Dalam sehari ini, saya sudah mengalami tiga kali kesasar. Kalau mengingat ini saya benar-benar ingin sekali rasanya untuk tertawa, Sendiri dan mengalami tiga kali kesasar di daerah ya (mungkin) sebenarnya familiar namun jadinya terasa asing.  Maybe it sounds so silly but it is seriously fun! Haha pembuka awal Juni yang menyenangkan   

Tuesday, May 22, 2012

Perpustakaan Kecil

Membuat sebuah perpustakaan dadakan, ya itulah kegiatan yang saya lakukan untuk mengisi waktu liburan ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya sangat senang melakukan berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar rumah, mungkin hampir sebagian besar waktu yang saya miliki saya habiskan di luar rumah entah untuk les, bermain, tpa, bersepeda keliling komplek, atau berjalan-jalan.
Suatu waktu ketika liburan sekolah tiba, kebanyakan teman-teman kelas saya pergi menghabiskan liburan sekolah bersama dengan keluarganya tapi tidak bagi saya karena kedua orang tua saya harus pergi bekerja. Walaupun saya tidak bisa menghabiskan liburan dengan pergi jalan-jalan bersama keluarga, saya tidak kehabisan ide untuk mengisi waktu libur yang selalu saya nantikan.
Saya pergi ke depan rumah untuk melihat apakah ada teman-teman yang sedang bermain namun sayang saya tidak melihat satu orang pun dari mereka di sana. Suasana libur pun terasa sangat sepi. Saya mulai merasakan bosan karena saya menghabiskan waktu saya hanya dengan menonton televisi. Tanpa sengaja, saya melihat tumpukan komik-komik dan buku-buku cerita yang ada di rak. Saya mengeluarkan semua buku dan mulai menghitungnya ternyata jumlahnya lumayan (mengingat ayah saya cukup sering mengajak saya pergi ke toko buku dan saya selalu membeli komik ataupun buku cerita ketika pergi ke sana). Kemudian, terpikir sebuah ide untuk mendirikan sebuah perpustakaan kecil. Segera, saya pergi ke teras dan membersihkannya. Saya membawa meja dan Rak kecil ke teras dan mulai merapikan buku-buku di rak. Sambil menunggu, saya mendata buku-buku yang ada. Hari pertama saya membuka perpustakaan masih tidak ada seorang pun yang datang. Saya tidak kecewa dan saya masih berharap esok akan ada seseorang yang datang untuk meminjam buku. Keesokan harinya, saya membuka perpustakaan kecil saya itu. Saya duduk sambil terus berharap nanti akan Ada seseorang yang datang dan ya, teman-teman kakak saya pun datang untuk bermain kesempatan ini tentu tidak saya sia-siakan saya menawarkan mereka untuk menjadi anggota di perpustakaan kecil saya itu. Hasilnya... (dengan sedikit paksaan haha) mereka mau menjadi anggota, horeee! Dan salah satu dari mereka menawari saya buku-buku komiknya untuk perpustakaan kecil ini. Koleksi buku pun semakin bertambah. Saya memutuskan mereka untuk menjadi pengelola perpustakaan kecil ini. Kami mulai membuat nama untuk perpustakaan ini, dan akhirnya kami menamai perpustakaan kecil ini ”smile”. Haha entah kenapa kami memutuskan menggunakan nama ini -- ”smile”.
Perpustakaan kecil ini pun mulai berjalan, teman-teman kakak saya menjaga perpustakaan dan saya pergi berkeliling mempromosikan perpustakaan ini. Alhasil, anggota mulai bertambah. Kegiatan pinjam-meminjam buku pun berjalan. Setelah seminggu berlalu, uang hasil dari para anggota yang meminjam buku pun lumayan dapat saya belikan 2 buah komik baru untuk tambahan koleksi perpustakaan.
Perpustakaan kecil ini pun bisa terus berjalan. Namun, seiring waktu liburan sekolah yang telah usai kegiatan di perpustakaan kecil ini pun usai. Walaupun hanya sekitar 1 bulan saya memiliki sebuah perpustakaan, saya sangat senang karena saya bisa mewujudkan apa yang ingin saya lakukan dan semuanya berjalan dengan baik

Tuesday, March 20, 2012

Representation of White People in Two Maya Angelou's Novels 'I Know Why the Cage Bird Sings' and 'Gather Together in My Name'

Introduction
  An autobiography is a book about the life of a person that written by that person (Wikipedia). I Know Why the Cage Bird Sings and Gather Together in My Name are the autobiographies of Maya Angelou. According to Microsoft Encarta (2009), Maya Angelou, is an American author, poet, performer, and civil rights activist, best known for portrayals of strong African American women in her writings. Characteristically using a first-person point of view and the rhythms of folk song, she writes of the African American woman’s coming of age, of struggles with discrimination, of the African and West Indian cultural heritage, and of the acceptance of the past. I Know Why the Cage Bird Sings is the first from six of her autobiographies. The title I Know Why the Caged Bird Sings is one of the stanzas from the Afro-American poet, Paul Laurence Dunbar. Maya used this title because the title symbolizes the black people. The Cage symbolizes the limitation and the Bird symbolizes the black people itself. According to Encarta Dictionary, Cage means metal enclosure for animal. The cage limits the bird to fly, so the cage bird in the title means the limitation of the black people to do anything. The limitation mentioned here implies that black people were not as free as the white people were. The black people are considered as the union of the minorities, that is why Maya rather to use the Bird than Birds. Sing symbolizes the existence of the Black people. When singing, they voiced. It means that when you are singing that means you articulate something, you voiced something. Singing is one of the black people ways to show what they feel, to express their selves. In I Know Why the Cage Bird Sings, telling about Maya Angelou’s childhood. She starts her story when she was three years old until she was seventeen years old. In this story is told about how Maya and the Black people survive from the racism issue that existed at the time. In her seventeen years of her life, she has been through many different things with other kids in her age like sexual abuse; her stepfather, Mr. Freeman, raped her. That is a traumatic event for her. At the end of the story, Maya is told having a baby. The baby replaced all the things that actually lost, the father is replaced by Bailey and the baby replaced Bailey. Her second book titled Gather Together in My Name, this book is a continuation of the previous book I Know Why the Cage Bird Sings. According to Wikipedia.org, the book's title is taken from Matthew 18:19-20: "Again I say unto you, That if two of you shall agree on earth as touching any thing that they shall ask, it shall be done for them of my Father which is in heaven. For where two or three are gathered together in my name, there am I in the midst of them" (King James version). While Angelou has acknowledged the title's biblical origin, she also stated that the title counteracted the tendency of many adults to lie to their children about their pasts (2010). The story began when she was 17 years old to 19 years old where she began carrying out her roles as a single mother. She began to find a job to fulfill the daily needs for her and the baby. Many issues come up in these autobiographies such as identity of the Black people, racism, segregation, sexual abuse, family relationship, etc. One of those issues that I want to talk in this essay is about racism. As we know, when we look back to the American history there were many literary works that raised theme about racism. The issue of racism has been the main problem in America, between the Whites and the Blacks especially in the colonial era and the slave era. In both autobiographies, show the representation of white people from Maya Angelou’s perspective and racial identity. Racial identity, racial affiliation, and racial exclusion are the product of human work, human effort (McCarthy, 1998).  

Discussion
In this essay, we will try to see the result of the perception of racial context that is presented by Maya Angelou. However, before we talk about it further, we need to know about the perception. According to Britannica Concise Encyclopedia perception is a process of registering sensory stimuli as meaningful experience (1994-2008). Perception is influenced by a variety of factors, including the intensity and physical dimensions of the stimulus; such activities of the sense organs as effects of preceding stimulation; the subject's past experience; attention factors such as readiness to respond to a stimulus; and motivation and emotional state of the subject (T. C. E. Encyclopedia, 2007). Frank Jackson (1977) argues, among other things that we are never immediately aware of external objects, that they are the causes of our perceptual experiences and that they have only the primary qualities. In the course of the argument, sense data and the distinction between mediate and immediate perception receive detailed defences and the author criticises attempts to reduce perceiving the believing and to show that the Representative theory makes the external world unknowable. Another theory that talks about the perception, the theory is taken from Worldlingo.com. The representative theory of perception states that we do not perceive the external world directly; instead, we perceive our personal interpretation of an object by way of sense data. A na├»ve realist assumes she sees the dog upon perceiving a dog, whereas a representative realist assumes she sees a sensory representation of the dog upon perceiving a dog (Worldlingo, 2010). We will discuss about the perception by using both theories because those theories are mutually supportive, these arguments show that exactly when we will interpret something that must be influenced by all the objects that exist outside ourselves. The object may be experiences, ideas, needs, expectations, values, visual objects, and conflicts. 

I Know Why the Cage Bird Sings
Maya Angelou lived with her grandmother, Momma, and her brother, Bailey, in Stamp, Arkansas. Her neighborhood affects enough about her views against white people living in the vicinity. There are some evidences that show how Maya interpret the White people.

“I looked at the items that weren’t on display. I knew, for instance, that white men wore shorts, as Uncle Willie did, and that they had opening for taking out their “things” and peeing, and that white women’s breasts weren’t built into dresses, as some people said, because I saw their brassieres in the baskets. But I couldn’t force myselt to think of them as people… ” (Angelou, 1969 p. 25-26).

Maya wonders why the white people do that thing maybe the diversity of culture they have that makes Maya curious about it. This diversity make Maya considers the White people not as human beings. Besides that, the text shows her dislike of the White people. The other context also show how Maya dislike the White People, she named the White People as whitefolks.

“Whitefolks couldn’t be people because their feet were too small, their skin too white and see-throughy, and they didn’t walk on the balls of their feet the way people did-they walked on their heels like horse People were those who lived on my side of town. I didn’t like them all, or, in fact, any of them very much, but they were people. These others, the strange pale creatures that lived in their alien unlife, weren’t considered folks. They were whitefolks” (Angelou, 1969 p. 26).

Folk, according to The American Heritage - Dictionary of the English Language, means the common people of a society or region considered as the representatives of a traditional way of life and especially as the originators or carriers of the customs, beliefs, and arts that make up a distinctive culture (2009). As we know that the White people always have privilege in doing anything so in this context, Maya wants to represent the White people as common people. Therefore, she called them as whitefolks.

“Everyone I knew respected these customary laws, except for the powhitetrash children” (Angelou, 1969 p. 28).

Powhitetrash means someone so poor (and white trash) that could not afford the "o" and the "r" (Dictionary, 1999-2010). The context shows that many white people there are not rich as Momma, Maya ever said that some white people have lived in her house and worked with Momma.

“The judge asked that Mrs. Henderson be subopened, and when Momma arrived and said she was Mrs. Henderson, the judge, the bailiff, and other whites in the audienece laughed. The judge had really made a gaffe calling a Negro woman Mrs., but then he was from Pine Bluff and couldn’t have been expected to know that a woman who owned a store in that village would also turned out to be colored. The whites tickled their funny bones with incident for a long time, and the Negroes thought it proved the worth and majesty of my grandmother” (Angelou, 1969 p. 48).

The context seems to show that the White people never respect the Black people. When the white people addressed Momma with ‘Mrs.’, they laughed, as they know that Momma was a Negro. They think that they were wrong to call Momma with ‘Mrs.’ Then, the White people surprised when they knew that Momma was the owner of the store in that village because as they know the Black people only can be slaves or peasant.

“People in Stamps used to say that the whites in our town were prejudice that a Negro couldn’t buy vanilla ice cream. Except on July Fourth. Other days he had to be satisfied with chocolate” (Angelou, 1969 p. 49).

The ice cream may symbolize the color, white as vanilla and black as chocolate. Therefore, they only can buy the ice cream that is precise with their color.

When Bailey tried to interpret the words with:

“Whitefolks use ‘by the way’ to mean while we’re on the subject,” Momma reminded us that “whitefolks” mouths were general loose and their words were abomination before Christ” (Angelou, 1969 p. 103)

Momma thinks that using ‘by the way’ is less politely and the words were abomination before Christ. From this statement, we can see that the whites have poor language skills. They cannot use any polite language. The language skill can show our intellect, our personality. If we are able to use good language, it shows that we have a good personality because language is one part of identity.

“While white girls learned to waltz and sit gracefully with tea cup balanced on their knees, we were lagging behind, learning the mid-Victorian values with very little money to indulge them. (Come and see Edna Lomax spending the money she made picking cotton on five balls of ecru tatting thread. Her fingers are bound to snag the work and she’ll have to repeat the stitches time and time again. But she knows that when she buys the thread). We were required to embroider and had I trunkfuls of chief to my credit” (Angelou, 1969 p. 104).

It shows the different culture between the white and the black. While the white girls drink the tea, the black must go to pick the cotton. The habit is opposite, the custom made by the girls as white people are a habit like done by the aristocracy.  

Gather Together in My Name
In the second book, it was told that Maya and her baby lived with her mother and her stepfather in San Francisco. It narrated about Maya’s life from the ages of 17 to 19, in those ages she has been through a series of relationships, occupations, and cities as she attempts to raise her son and tries to find place in the world for her and her baby. The themes of this second book are almost same with the first one the ways Maya overcomes racism, sexism, etc. She still shows her hateful against the white men. Like in a part of the beginning of the story, she called the white man as a silly white woman.
“I was mortified. A silly white woman who probably counted on her toes looked me in the face and said I had not passed. The examination had been constructed by morons for idiots. Of course I breezed through without think much about it” (Angelou, 1975 p. 7).
Mention of the white woman by calling her a silly white woman implies that Maya still keep her hatred to the white people. This may be because their treatment is still being unfair to the Black people. Then Maya finds another job in a Creole Cafe, she works there as a chef. She will do anything to find a job to get money include to lie that she can cook Creole.
“Wilshire Boulevard was wide and glossy. Large buildings sat back on tiny little lawns in a privacy that projected money and quite voices and white folks” (Angelou, 1975 p. 25). 
Maya still uses the term white folks to mention the white people. This consistency can show us about how Maya is feeling to the white people. The issues of racism still exist in her second book, the reason why it still subsists because it is influenced by the condition that happed at the time. Where the racial discrimination still be the main problem, and restrict the black people to do anything. Besides all the things that happened, the consistency of using this term because of Maya’s experienced at the past and compare it with situation that existed at the time that is forming Maya’s perception about the white.
 “The South I returned to, however, was flesh-real and swollen-belly-poor. Stamps, Arkansas, a small hamlet, had subsisted for hundreds of years on the returns from cotton plantations and until World War I, a creaking lumbermill. The town was halved by railroad tracks, the swift Red River, and racial prejudice. Whites lived on the town’s small rise (it couldn’t be called a hill), while blacks lived in what had been known since slavery as “the Quarters” (Angelou, 1975 p. 61) 
The depiction on the existing situation in this context is the separation between the blacks and the whites that occurred in America at the time where the separation between them is obvious. The racial problems still become the continual notorious issue in everyday American society. Comparing the perception of White character in I Know Why the Cage Bird Sings and Gather Together in My Name After looking through the novels there are two terms that Maya used consistently to describe or name the White people that are, whitefolks, and powhitetrash. She used these terms because she did not consider them as people, we can see it in this part of the story. Along with other black children in small Southern villages, I had accepted the total polarization of the races as a psychological comfort. Whites existed, as no one denied, but they were not present in my everyday life. In fact, months often passed in my childhood when I only caught sight of the thin hungry po’ white trash (sharecoppers), who lived sadder and meaner lives than the blacks I knew (Angelou, 1975 p. 62). It is said that Maya did not consider them as people, and the whites never exist in Maya’s life. She prefers to regard them as folks or parable them as something. Maya experienced may influence the naming of white people. Choosing an ethnic label is part of a process of group self-determination and reflects a way of thinking about the self. In choosing the label explicit verbal symbols or words are targeted to represent the essence of the group (and the self). The aim of the selection is to elicit a desired attitude or behavior toward and evaluation of the object reffered to; the desired reaction may be positive, negative, or both. Further, not only do names sway feelings and conduct toward the group, they also affect one’s view of reality toward both in- and outgroup members. Labels create as much as express a sense of ethnic identity (Thornton, Taylor, & Brown, 2000) 

Conclusion
As we discussed before perception according to Britannica Concise Encyclopedia is a process of registering sensory stimuli as meaningful experience (1994-2008). In I Know Why the Cage Bird Sings and Gather Together in My Name, some parts show Maya Angelou perception about the white people; those parts explain how the white people are in Maya’s point of view implicitly. The way Maya represent the whites in these stories are by naming the white itself and showing the events that illustrate the situation between the blacks and the whites. Those ways can build the readers perception about the character of the white itself. It is more likely Maya Angelou wants the readers able to make their own perception about the white characters through her thinking because in this story the white almost as the passive act which it shows by the narrator’s point of view.


Bibliography
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Angelou, M. (1969). I Know Why the Caged Bird Sings. New York: Bantam Books.
Angelou, M. (1975). Gather Together in My Name. New York: Bantam Books.
Dictionary, U. (1999-2010). powhitetrash. Retrieved December 29, 2010, from http://www.urbandictionary.com/define.php?term=powhitetrash Encarta. (2009).
Maya Angelou: Microsoft Corporation. Encyclopedia, B. C. (1994-2008). Perception. Retrieved December 29, 2010, from http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Perception Encyclopedia, T. C. E. (2007). Perception. Retrieved December 29, 2010, from http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Perception
Jackson, F. (1977). Perception: A Representative Theory. from http://books.google.co.id/books?id=CPM8AAAAIAAJ&printsec=frontcover&dq=representative+theory&source=bl&ots=N2sWvTm26p&sig=XoQz-2oWKUY8Rhq0CY0NbgyMuVo&hl=id&ei=-PgaTYCWCY3xrQeD5vnSCw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=2&ved=0CCAQ6AEwATgK#v=onepage&q&f=false Language, D. o. t. E. (2009). Folk. Retrieved Decmber 29, 2010, from http://www.thefreedictionary.com/folk
McCarthy, C. (1998). Living with Anxiety: Race and the Renarration of White Identity in Contemporary Popular Culture and Public Life. Journal of Communication Inquiry.
Thornton, M. C., Taylor, R. J., & Brown, T. N. (2000). Correlates of Racial Label Use Among American of African Descent: Colored, Negro, Black, and African American. Race and Society, 2, 149-164.
Wikipedia. (3 December 2010). Autobiography. Retrieved December 29, 2010, from http://en.wikipedia.org/wiki/Autobiography
Wikipedia. (2010, 18 September 2010). Gather Together in My Name. Retrieved December 29, 2010, from http://en.wikipedia.org/wiki/Gather_Together_in_My_Name Worldlingo. (2010). Representative realism Retrieved December 29, 2010, from http://www.worldlingo.com/ma/enwiki/en/Representative_realism

Thursday, July 21, 2011

The Red Shawl Boy

It was April, the nicest April for Maggie when she met the boy who always wore the red shawl for the first time. Every morning before she went to the school, she went to the bookstore to help her mother cleaning up the store but sometimes she helped her mother after school especially in the storybook lady time. She loved the storybook lady time. Since she was a child her mother always read a story to her and other children. But now, she replaced her mother to read a story to children who came to the store. Her mother own a bookstore, named the Happy Book Shop. Maggie loved reading books and even she often indulged in imagine things. She read almost the whole books in the store.
She looked around hoping that she could find a book that she hasn’t read yet. There, she found something that attracted her.
“Mom, may I have this Persuasion, please?” begged Maggie to her mother.
“O, dear I wish I could give it to you” said her mother. “Don’t you have already read this book? So, why do you want to have this book if you have already read it?” her mother wondered. “Um, yeah I have already read this book but can’t I have it, please? I’ll do everything if you give this book for me”, said Maggie. “Okay, okay honey. I’ll think about it”, said her mother. “Meg, you have to go now. It’s already 7 if you don’t hurry you’ll miss the bus”. Then Maggie went. Along the way to the bus stop she kept thinking and hoping that her mother would give the Persuasion for her.
The day was the third day she studied at School. She took the English Department. The reason why she took this major is because she loved reading and writing. Jane Austen was her favourite.
It was Wednesday. It was a bright day. She wore a cardigan - green cardigan, the one with the hood and the white t-shirt and skirt. And she also wore her favourite shoes, her brown flat shoes. She always wore it wherever she went because she thought that the best shoes could bring her to the best place in the world.
While waiting for the bus, she sat on the bench reading Pride and Prejudice, another Jane Austen’s book. She always spent her leisure time to read or write something. Suddenly, she closed the book looked at the time, anxious because the bus hasn’t come yet. She has already waited the bus for an hour. But she hasn’t seen any bus. The bus station was getting crowded. She noticed at the people in the bus station. “Ah, there are a number of people here… Maybe I am too serious reading till I don’t realize how many people here and most of them are students just like me. I wish they go to the different way with me so I don’t need to crowd each other. There… the bus comes, I have to be ready so I can sit in my favourite seat.”
When the bus came, she hurried to stand in the right door. Finally, she could sit in her favourite seat. She sat at the second seat behind the bus driver near to the window. She could see a beautiful view from the bus, she enjoyed it. It needed 30 - 45 minutes to get there. Maggie loved her journey to school very much. Usually, she spent her time in the bus reading. But today, she preferred to notice the people on the bus. She saw many different people on the bus with their own characters of course. She noticed two young girls talked and then she noticed someone in her left. She amazed. She saw a boy that looked like Paul McCartney. He wore a red shawl. She couldn’t divert her attention from him. “Oh My Gosh, he really looks like… young Paul McCartney, doesn’t he? Ah, I still can’t believe it.” She couldn’t believe in what she has seen. When she noticed him suddenly, her cheeks turned to be red.
Ten minutes later, finally she arrived. She walked. Seeing the flying birds, and enjoying the weather. Her first class begins at 10 am. She still had a spare time before the first class begun. So, she decided to sit on the bench in front of the class. She continued to read.
Unexpectedly, there was someone coming. That was the boy in the red shawl! He sat on the next bench to her. She stopped reading. “Is he the boy that I have seen at the bus?” She wondered and noticed him for a while. The boy still kept silent like a statue. “Why is he here? Does he go to the same faculty with me? Um, well anyone can take any major that they want of course include the major that I take but why… he is here.” She still wondered. Ah, it’s better for me to continue reading than thinking why he is here.” She sighed. Then the boy noticed Maggie for a while. “Is she the girl on the bus? Umm…” he tried to remember about Maggie. “Should I ask her? Maybe not, I guess I need not to ask her whether she is the girl sitting next to me or not.” The boy stared at Maggie with curios face. But afterward, “excuse me, hmm… is your name Maggie? I mean Maggie Fox?” said the boy to Maggie hesitated. “Um yeah, I’m Maggie. Sorry, how do you know my name?” Maggie surprised. “Here’s, I want to give your book back. You left it at the bus and there is your name on it. That’s way I know your name”. The boy gave the book to Maggie. “Oh, my name is Joe. Just call me Joe.”
Maggie became nervous; she didn’t know what to say. It seemed that the words in her mind were gone. “… thank… thank you’re, Joe!” She slipped her tongue up. “Thank you’re? Ha-ha…” Joe laughed hearing what Maggie said. “You welcome, Maggie…ha-ha”. Maggie’s face turned red. “Okay… Maggie, I have to go now. Good bye, see you!” Joe smiled at her. “My...oh…my, see what you have done Maggie, why do you say such a silly word!” Maggie was angry to herself. She felt so ashamed. She sighed. When Maggie saw at the book that the boy gave, she saw a letter slipped in that book. She opened it up then she read.
“Dear, Maggie…”
At that moment, she read the letter from Joe she heard someone called her name. “Maggie… Maggie… Maggie…hey Maggie, are you listening to me?” It was Susie, Maggie’s best friend. Maggie surprised, it turned out that she was only dreaming talked to the boy. Susie had wakened her up from her daydream. “Maggie… See, you slept again when you were reading.” Susie giggled seeing what Maggie did. “Ah Susie… you’re frightening me out.” Maggie acted as if she was shocked, actually she disappointed. Maggie sighed. As soon as she looked at her right side, the boy in the red shawl still there. He did the same thing as before. He did nothing like a sculpture of Paul McCartney.
“Oh boy … how come it was only a dream, I felt like it was real. Ah,” Maggie sighed. “I wish I know his name, the boy in the red shawl… I wish”. As they walked to the class, Maggie turned her head to see him for the last time and surprisingly, the boy smiled at her. “Thank God! You give me a chance to see him, the boy in the red shawl.” Maggie’s grateful.

Tuesday, June 15, 2010

Indonesia Pusaka Became Balonku Ada Lima? (How terrible it is!)

Did you know that I'm so terrible in singing? Honestly, I hate a lot when people asked me to sing a song. I don't have any good voice, so I'd love to sing just for myself. ha ha
Well, maybe that's sound weird but that's true. I don't really like it, and I have a tragic story about singing in front of the class. It happened few years ago.....
This tragedy happened when I was in the third class in Elementary School. One day, my teacher asked all of the students to play an instrument, and sing in front of the class. Most of student in my class was so happy to hear that task as a final test, but not me. Play an instrument wasn't a big deal, but the other one - SING IN FRONT OF THE CLASS ! Lord, I have no idea about this. I have to sing in front of the class - watching whole people there, come on, are kidding me?
My teacher didn't give me any choices, I really have to sing. At the time, I started with practiced piano, I practiced very hard. The song that I would play was "Mengheningkan Cipta", but I still confused to choose what song that I would to sing. Finally, I chose "Indonesia Pusaka" as a song that I would sing at the test. Almost everyday I spent my time to practice. Honestly, I was afraid if I forgot the musical notes, but the biggest fear was singing. I didn't know why I felt so nervous if someone asked me to sing in front of many people.
The day came, my teacher began calling the student one by one. Then my turn came, she called my name. And I went to my teacher's desk with brought my keyboard. The nervous came but I still able to control it. My teacher praised my play, afterward she asked me to sing. I said, "Okay mam". I walked to the front of the class, unexpected feeling came - the nervous controlled me. I couldn't to handle it. I tried to start singing, I could sing the first lyric very well. But the next lyrics, Oh my God ! I forgot the next lyrics, totally forgot. I couldn't remember it. But I kept hard to remember it, I repeated the first lyric. However it didn't work and I gave up. I decided to change the song. Because the remarkable nervous, the song that I've got left in my head only the legendary song - Balonku Ada Lima. That's really really tragic, I didn't have any choices. Finally, I sang the legendary song with low-pitch-voiced. It's really embarrassing. But luckily, none of my friends heard what song that I sang. ha ha ha
If I remember this tragic story how come "Indonesia Pusaka" become "Balonku Ada Lima". It was a tragicomedy story in my life.