Sunday, June 28, 2015

Bahasa adalah identitas diri, tapi kok..?!

Di era globalisasi membuat pengaruh bahasa-bahasa yang berasal dari luar daerah masyarakat setempat mudah masuk dan juga 'diadopsi' oleh masyarakat setempat dalam komunikasi sehari-hari untuk menambah nilai diri seseorang, contohnya saja bahasa Inggris. Oleh karena itu, hal inilah yang membuat semakin banyak orang-orang memulai mempelajari bahasa asing baik untuk tuntutan kerjaan, sekolah dll sehingga sekarang ini memungkinkan seseorang untuk menguasai lebih dari satu bahasa asing di luar bahasa ibunya. Namun di sisi lain, saat ini banyak sekali istilah asing yang digunakan sebagai tanda atau rambu di tempat umum, seperti sekolah, rumah sakit, mall, jalan raya dan lainnya. Para pembuat peraturan cenderung lebih memilih untuk menggunakan bahasa Inggris dibanding dengan bahasa Indonesia. Kalau pun ada bahasa Indonesianya itu hanyalah sebagai terjemahan dari tanda yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Tapi sadarkah kalian kalau tanda yang dibuat itu untuk memberitahukan suatu informasi? Jika pesan tersebut disampaikan dalam bahasa yang asing dengan masyarakat setempat bagaimana pesan tersebut bisa sampai kepada pembaca pesan tersebut? Kecuali tanda-tanda yang menggunakan bahasa Inggris tersebut hanya tertuju pada penutur asli bahasa Inggris saja ya masih masuk akal. Bahasa digunakan oleh manusia sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi dapat berhasil jika kedua penutur dapat saling mengerti apa maksud yang ingin disampaikan. Selain itu, bahasa asing yang dijadikan sebagai tanda (misal: "Sorry, for your inconvenience.", "This building is under construction.", "CAUTION, wet floor".) dan bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari tanda tersebut secara langsung mengindikasikan bahwa penutur asing lebih penting dibanding masyarakat kita sendiri yang berbahasa Indonesia. Mungkin banyak orang-orang yang tidak menyadari masalah ini padahal masalah ini sangatlah penting. Bahasa adalah identitas diri. Jika posisi bahasa asing lebih diutamakan berarti ya kita menerima identitas kita lebih rendah dari bahasa tersebut. Sadar atau tidak kita sudah 'terjajah' secara tidak langsung. Ya, ini menurut pandangan saya pribadi ya mungkin ada juga yang berpendapat lain. Saya tidak begitu suka dan merasa heran jika melihat tanda dalam bahasa asing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa keduanya. Tanda tersebut dipasang di negara yang penutur bahasanya adalah berbahasa Indonesia, mengapa bahasa yang digunakan tidak ditulis dalam bahasa Indonesia dan baru diterjemahkan ke dalam bahasa asing lainnya untuk membantu penutur asing mengetahui maksud dari tanda tersebut. Saya tidak melarang jika orang-orang menggunakan bahasa asing tapi harus tahu dimana, kapan menggunakan bahasa tersebut dan untuk tujuan apa. Jika alasan untuk belajar itu tidak jadi masalah. Saya jadi teringat ketika saya mengunjungi suatu negara di Timur Tengah, Saudi Arabia. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional pikir saya. Namun, apa yang terjadi ketika sampai di sana? Mayoritas masyarakat di sana tidak begitu menguasai bahasa asing ini. Mereka masih berpegang teguh menggunakan bahasa Arab dalam berkomunikasi, salut. Selain itu, di sana ada juga tanda-tanda, rambu dalam bahasa asing namun posisi bahasa Arab yang digunakan pada tanda-tanda tersebut berada di posisi awal baru kemudian diikuti oleh bahasa asing lainnya. Dari sana saya menyadari bahwa mereka benar-benar menghargai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka dibanding yang lain, dan ini sekaligus mengindikasikan bahwa mereka mempertahankan identitas mereka sebagai bangsa Arab. Hal ini terlihat seperti hal yang kecil namun sebenarnya masalah bahasa ini memiliki arti yang besar karena bahasa adalah identitas suatu bangsa. Kita boleh mempelajari bahasa asing tertentu untuk tujuan tertentu, misalnya saja kita mempelajari bahasa asing agar bisa berkomunikasi dengan para penutur asing lain, memudahkan kita berkomunikasi ketika kita mengunjungi suatu negara, dll.

Saya jadi teringat suatu kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya suka merasa 'lucu' jika mendengar atau melihat orang yang menggunakan suatu bahasa di luar bahasa ibunya di negara yang bukan bahasa penutur asingnya dengan tujuan menambah nilai dirinya atau bahasa sekarang supaya dibilang gaul atau ingin 'membudayakan' bahasa tersebut. Suatu ketika saya, kakak, dan ibu saya pergi menghadiri suatu kajian di sebuah mesjid di Bandung. Saya duduk bersebelahan dengan ibu saya. Di ruangan tersebut memang padat sehingga menyulitkan orang untuk lalu-lalang. Kemudian, ada seorang perempuan yang ingin lewat di antara saya dan ibu saya. Perempuan tersebut kemudian mengatakan "afwan" ketika mau melewati kami. Saya dan ibu saya hanya diam saja tidak mengerti maksud perempuan tadi. Perempuan tadi pun mengulangi kata-katanya. Saya hanya tersenyum. Sampai akhirnya dia menggunakan bahasa tubuhnya untuk menunjukkan maksudnya tadi.
Saya heran mengapa perempuan tadi lebih cenderung menggunakan bahasa Arab ketimbang bahasa Indonesia atau bahasa Sunda yang merupakan bahasa ibunya orang-orang Bandung pada umumnya dan sudah jelas dimengerti oleh kami. Muncul banyak pertanyaan dalam otak saya. Saya yakin perempuan tadi adalah orang Indonesia bukan orang Arab karena dia bisa berbicara dengan bahasa Indonesia dengan fasih tapi mengapa untuk mengucapkan "permisi", "punten" atau "maaf" di lingkungan yang mayoritas penutur asli bahasa Indonesia dan Sunda dengan menggunakan bahasa Arab yang jelas-jelas tidak dimengerti.
Dari situ saya jadi penasaran mencari arti kata "afwan", dan apa hasilnya? Sungguh mengejutkan. Menurut hasil pencarian yang saya lakukan ternyata kata "afwan" digunakan ketika ada seseorang yang mengucapkan terima kasih kepada kita sebagai balasannya.
Ilustrasi:
A: "syukron" (terima kasih)
B: "afwan" (sbg ungkapkan terima kasih kembali)
Saya jadi semakin heran mengapa dia menggunakan bahasa yang bukan penutur bahasa aslinya di tempat bukan tempat penutur bahasa aslinya dan  secara pemakaian salah bukan pada ungkapan yang seharusnya. Apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan? Apakah ia ingin memperlihatkan identitas dia? bahwa dia sudah "kearab-arab'an"? Atuhlah..
Nah, fenomena bahasa yang sering terjadi saat ini asal "comot" tanpa ada dasar pengetahuan didalamnya ini yang kadang membuat saya bingung, dan heran mengapa bisa mereka "menggunakan" bahasa yang memang asing dari bahasa ibunya tanpa "mempelajari"nya terlebih dahulu. 😰
Memang membuat kesalahan dalam berbahasa tidak mengapa karena membuat kesalahan adalah salah satu proses pembelajaran. Namun, baiknya kita belajar secara menyeluruh mengenai bahasa yang kita sedang pelajari sebab bahasa mengandung 'budaya' tersendiri yang harus kita tahu agar tidak salah ketika kita mengekspresikan diri melalui bahasa tersebut dan ketika kita mulai menuturkan bahasa asing kita memiliki pengetahuan yang baik mengenai bahasa tersebut.

Wednesday, May 6, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 3)

Hari ketiga di Makkah Al Mukarramah.. Tak terasa sudah menginjak hari ketiga. Hari ini agenda kami adalah mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Makkah, yaitu Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Arafah, Muzdalifah, Mina, Jabal Noor (Gua Hira), Kuburan Ma'la, dan terakhir Museum Haramain. Pada saat berziarah jangan lupa untuk membawa kamera karena pasti akan banyak tempat menarik yang bisa diabadikan. Jadi sebelum berangkat siapkan kamera dalam tas ya dan pastikan baterai dalam kondisi penuh terisi.
Setelah sarapan pagi, kami pun bersiap untuk pergi berziarah. Kami menggunakan bus yang telah disiapkan oleh pihak travel. Bus yang kami gunakan adalah Farok Jamil Khogeer. Bus di sini, menurut saya, cukup berbeda dengan bus yang ada di Indonesia. Dari segi ukuran, bus di Arab Saudi sepertinya berukuran lebih besar dari pada bus di Indonesia. Ketika saya masuk ke dalam bus, saya kaget karena mendengar sang supir sedang berbicara menggunakan bahasa Sunda. Postur tubuhnya yang menyerupai orang-orang Arab tidak menunjukkan bahwa beliau adalah orang Indonesia ternyata sang supir berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Pantas saja beliau sangat fasih berbicara bahasa Sunda.
Destinasi pertama kita adalah Jabal Tsur. Jabal adalah bahasa Arab untuk gunung. Kondisi alam di sini memang berbeda dari Indonesia. Sepanjang perjalanan pemandangan yang dapat kita lihat adalah gunung bebatuan. Ketika sampai di Jabal Tsur, kami disajikan pemandangan yang berupa bebatuan ya memang di luar ekspektasi saya tapi seharusnya saya sudah bisa menebak tentang bagaimana tempat tersebut mengingat kondisi alam di sini yang dikelilingi oleh gunung batu. Walaupun di sini hanya ada pemandangan gunung batu namun tempat ini merupakan tempat bersejarah bagi umat Muslim. Yeah, it's still worth to be visited knowing such a historical place for Muslims. Di sini kami hanya diberi waktu 15 menit saja untuk melihat-lihat dan berfoto.
Lanjut ke destinasi berikutnya yaitu Jabal Rahmah. Jabal Rahmah terletak tidak begitu jauh sekitar 20-30 menit dari Jabal Tsur dengan menggunakan kendaraan. Di Makkah masih tidak begitu padat kendaraan jadi di sini bisa dikatakan bebas dari macet. Jabal Rahmah terletak di daerah Arafah. Menurut sejarah, Jabal Rahmah adalah tempat dipertemukannya Nabi Adam AS dengan Siti Hawa setelah Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi. Banyak orang-orang yang percaya kalau kita menuliskan nama di batu-batu yang ada di Jabal Rahmah kita akan mendapatkan jodoh atau menuliskan nama kita dengan pasangan kita akan langgeng selamanya nah tapi itu cuma mitos ya jadi gak usah percaya. Ketika akan turun dari bus, para Muthowwif terlebih dahulu memberitahu kami untuk tidak membeli spidol atau pun mencorat-coret dan mengotori Jabal Rahmah. Selain itu, para Muthowwif pun menyarankan agar tidak menerima tawaran dari tukang foto keliling karena harga cetaknya yang mahal juga nanti akan dipaksa untuk membeli seluruh foto. Akhirnya tiba di Jabal Rahmah, kami diberi waktu 30 menit untuk melihat-lihat. Memang tidak begitu lama karena kami masih memiliki destinasi lain untuk dikunjungi. Kondisinya di sini tidak jauh berbeda dengan Jabal Tsur. Di sini terdapat sebuah tugu, konon tugu itulah tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Hari ini ada banyak turis yang mengunjungi tempat ini bisa dibilang hari ini cukup padat. Tugu yang saya maksud terletak di atas gunung sehingga kami harus menaiki anak tangga terlebih dahulu. Karena cukup padat jadi kami harus berdesakan saat menaiki anak tangga. Di sana kami bisa melihat banyak orang-orang yang sedang memanjatkan do'a. Untuk menghindari perbuatan syirik petugas yang ada di sana mengarahkan para peziarah untuk berdo'a menghadap ke Ka'bah bukan ke arah tugu. Di puncak dekat tugu terdapat sebuah billboard yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak datang ke tempat ini melainkan pada hari Arafah dan Nabi SAW tidak mengusap batu ataupun melaksanakan shalat di tempat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa Nabi Muhammad SAW mengunjungi tempat ini sebagai salah rangkaian ibadah haji, yaitu pada saat bermalam di padang Arafah. Dari tulisan di billboard seolah-olah menegaskan untuk tidak mengagung-agungkan tempat tersebut. Saya masih bisa melihat banyak coretan di batu-batu sekitar tugu ya mungkin mereka percaya dengan mitos tersebut. Sebaiknya jangan percaya ya. Hehe
Jabal Rahmah ini merupakan salah satu tempat bersejarah namun sangat disayangkan para pengunjung tidak memperhatikan kebersihan di sekitaran Jabal Rahmah jadi kita bisa melihat banyak sampah yang berserakan.
Setelah selesai di Jabal Rahmah, kami pun meneruskan perjalanan menuju Mina dan Muzdalifah. Ya kedua tempat tersebut terdapat di Arafah, letaknya sangat dekat dari Jabal Rahmah. Di sini kami bisa melihat camp bagi para jama'ah haji dan di sini kita bisa menemukan stasiun kereta api. Stasiun kereta di sini terlihat lebih modern. Ada banyak sekali tenda-tenda yang disediakan oleh pemerintah Arab Saudi kali ini pemandangan yang kita bisa lihat adalah berupa tenda-tenda berwarna putih. Di samping camp bagi jama'ah haji terdapat sebuah gunung yang di atasnya terdapat bangunan seperti istana. Yap, menurut penjelasan dari muthowwif itu adalah istana Raja Arab Saudi. Baru kali ini saya bisa melihat istana raja secara langsung, benar-benar megah. Selama di Mina dan Muzdalifah kami tidak turun dari bus karena memang tidak memungkinkan untuk turun dari bus. Dari sini kami meneruskan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Kami melewati Jabal Noor, tempat gua Hira berada dan pemakaman Ma'la. Karena waktu yang terbatas kami hanya sekedar melewati kedua tempat tersebut. Oiya, ada lagi yang berbeda yaitu tempat pemakaman. Di sini makamnya cenderung sederhana hanya diberi tanda oleh sebongkah batu yang berukuran tidak terlalu besar sebagai tanda dan semuanya rata dengan tanah cukup berbeda dengan di Indonesia yang terlihat mewah, dibangun menggunakan keramik bahkan sampai ada yang dibangun seperti rumah komplit dengan pagarnya. Lain ladang, lain belalang. Setiap tempat memiliki budaya dan aturan masing-masing. Lanjut lagi, kita hampir tiba ditujuan terakhir ziarah hari ini yaitu Museum Haramain. Sebelum sampai ke Museum kita melewati beberapa tempat yang menarik di Makkah. Salah satunya Gedung Liga Muslim Sedunia, eits ini bukan tempat untuk bermain sepak bola ya tapi ini adalah gedung dimana para penghafal Al-Qur'an berkumpul dan di sini tempat untuk menyeleksi para imam besar di Masjidil Haram. Keren kan tempatnya?! Sayang tempat ini tidak boleh untuk umum jadi kami hanya lewat saja. Tak jauh dari gedung Liga Muslim Sedunia tadi, di sini mulai ada pemukiman penduduk tapi tidak begitu banyak mungkin hanya satu komplek saja dan pertokoan terletak lumayan jauh dari pemukiman penduduk tadi.
Beberapa ratus meter dari Museum, ada sebuah bangunan kecil yang menurut cerita muthowwif  itu adalah bangunan yang angker. Nah baru kali ini saya mendengar cerita angker dari tanah Arab. Menurut cerita warga setempat, bangunan itu tidak bisa dirobohkan entah kenapa selalu saja ada yang menghalangi jika ada yang mau merobohkan bangunan tersebut sebab bangunan tersebut adalah rumah para jin sehingga orang-orang selalu gagal menghancurkannya. Hehe seram juga ya. Yah kita lupakan dulu cerita seramnya, sekarang kita menuju destinasi akhir kita yaitu Museum Haramain. Museum Haramain adalah museum dua mesjid suci yaitu Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi. Di sini terdapat berbagai struktur pendukung bangunan yang dulu dipakai oleh Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi seperti pintu Ka'bah, Maqam Ibrahim, sumur zam-zam, dan lainnya. Di sini juga kita bisa melihat cara membuat kiswah dan juga miniature Masjidil Haram pada tahun 2025 mendatang dan Mesjid Nabawi. Saya sangat menyukai tempat ini karena kita bisa melihat bagaimana perkembangan Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi. Setelah selesai mengunjungi museum, kita akan diberikan Al-Qur'an sebagai cenderamatanya. Alhamdulillah saya dapat 2 buah Al-Qur'an hehe..
Ziarah ke tempat-tempat bersejarah hari ini telah selesai, walaupun sudah berkeliling ke beberapa tempat kami masih ada waktu untuk melaksanakan shalat dzuhur di mesjid. Alhamdulillah jadi masih bisa memaksimalkan untuk beribadah di Masjidil Haram..
Dari perjalanan tadi saya perhatikan, di sini tidak begitu ramai dengan gedung-gedung bertingkat seperti Mall, pertokoan atau Apartment. Walaupun ada semuanya dilokasikan di wilayah tertentu namun saya tidak melihat begitu banyak para pejalan kaki yang berlalulalang di sekitaran jalan, di Taman bermain pun saya tidak melihat ada anak-anak yang sedang bermain di sana. Ya, itu hanya sekilas hasil pengamatan saya selama di perjalanan. Menarik dan menambah pengetahuan baru tentang budaya setempat.
Besok sudah hari terakhir di Makkah, waktu memang cepat sekali berlalu...

(bersambung...)

Sunday, May 3, 2015

Kick Andy: Episode "2 Mei" -- Sangat Menyentuh Hati

Hari ini saya menonton re-run tayangan Kick Andy di Metro TV. Kali ini, Bang Andy mengangkat tema mengenai guru dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei lalu. Para guru yang menjadi tamu di Kick Andy merupakan guru yang luar biasa dibalik keterbatasan yang mereka miliki. Mungkin secara fisik mereka tidak sempurna tapi niat mereka untuk mengabdikan dirinya sebagai pengajar itu yang sempurna. Saya sangat kagum dengan mereka walaupun saat ini masih berstatus sebagai guru honorer dan mendapatkan gaji yang tidak sebesar guru-guru yanh sudah diangkat menjadi PNS, tidak menyurutkan niat mereka untuk tetap mengajar dengan sepenuh hati demi kemajuan siswa-siswinya. "Saya ikhlas saya tidak dibayar karena saya teringat tokoh pendidikan seperti Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantoro para pahlawan pendidikan, mereka ikhlas mengajar tanpa dibayar yang terpenting hanya demi kemajuan bangsa, hanya untuk mencerdaskan anak bangsa", ucap pak Untung (Salah satu narasumber yang merupakan pengajar Agama di salah satu sekolah di Sumenep, Madura).
Bisa menerima keadaan yang secara fisik tidak sempurna dengan lapang dada, penuh keikhlasan dan bisa turut berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa itu merupakan hal yang luar biasa menurut saya karena terkadang orang yang memiliki kesempurnaan fisik saja masih sering mengeluh sehingga melupakan hal-hal yang seharusnya bisa disyukuri dengan kesempurnaan yang telah dimiliki.
Banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil dari episode kali ini salah satunya untuk selalu bersyukur dan bersyukur atas semua nikmat yang telah diperoleh. "Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman) dan berusaha untuk menjadi sebaik baiknya makhluk yaitu makhluk yang bermanfaat bagi sesama. Amiin

Sunday, April 19, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 2)

Hari kedua di Makkah Al Mukarramah..
Hari ini kami diberi kebebasan untuk menentukan acara kami sendiri tentunya kesempatan ini tidak kami sia-sia kan untuk memaksimalkan ibadah di Masjidil Haram. Di sana kami melaksanakan Shalat Fajr (Subuh) sekitar pukul 4.43, karena masih terbawa suasana di tanah air dengan santai kami berangkat pukul 3.30 dari hotel yang jaraknya kurang lebih 300 meter dengan Masjidil Haram dan ketika kami sampai dipelataran mesjid dari kejauhan pintu mesjid sudah ditutup. Saya kaget karena saya pikir ini masih 1 jam sebelum shalat tapi saya dan keluarga saya tidak mendapatkan tempat di dalam mesjid. Akhirnya saya dan ibu saya shalat di pelataran mesjid dan kakak serta ayah saya shalat di lantai paling atas. Ini merupakan pelajaran penting yang kami dapatkan. Pertama, di sini kami diharuskan untuk belajar lebih disiplin lagi dalam beribadah yang tentunya disiplin ini harus tetap kami terapkan ketika pulang ke tanah air nanti. Kedua, mengenai semangat untuk beribadah ya ini sangat terlihat jelas semangat orang-orang yang datang untuk beribadah ke Masjidil Haram, mereka berbondong-bondong datang 2-3 jam sebelum waktu shalat tiba. Kalau kita bandingkan dengan yang terjadi di tempat kita itu bisa dibilang jauh sekali ya semangat ke mesjidnya. Malah udah tinggal 5 menit lagi sebelum waktu shalat mesjid masih kosong masya Allah berbeda sekali ya? Mudah-mudahan semangat ini bisa terus terbawa dimana pun kita berada amiin.
Setelah Shalat Subuh berjama'ah di mesjid, saya dan ibu saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Di sepanjang jalan ada banyak toko-toko yang menjual makanan. Semua toko dipenuhi oleh  para pembeli, saya pun menjadi penasaran untuk mencicipi jajanan khas Timur Tengah. Akhirnya saya mencoba kebab, ternyata kebab di sana sama seperti hot dog. Jadi kebab di sana dengan kebab di sini berbeda jenis. Dari segi rasa, hmm filling rotinya sedikit hambar cukup berbeda ya dengan Indonesia yang rasanya kaya akan bumbu. Kebab-nya saya kasih nilai 6 dari 10. Kebab yang saya beli isi nugget ayam dan ayam bumbu kari. Harga kebab-nya itu 4 Real/ buah.
Saya dan ibu saya melanjutkan perjalanan menuju hotel. Selesai shalat subuh sekitar pukul 5.30 dan kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di kamar, mungkin karena terlalu lelah kami pun tertidur sejenak dan terbangun pukul 6.30 WSA. Hampir saja kami melewatkan jam makan pagi. Jadwal makan pagi di hotel kami mulai pukul 6.00 - 8.00 WSA. Peserta harus mengikuti jadwal makan tepat waktu karena jika sudah lewat dari jadwalnya semua makanan sudah habis dibuang. Makan itu penting untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit jadi jangan sampai melewatkan jam makan.
Karena hari ini kami diberi kebebasan, jadi kami habiskan waktu di Masjidil Haram untuk mengikuti shalat berjama'ah dan melaksanakan Thawaf Sunnah. Di Masjidil Haram, setiap kita selesai melaksanakan Shalat Fardhu, kita akan melaksanakan shalat Jenazah. Sehari berarti kita melaksanakan shalat jenazah 5x setiap harinya. Banyak orang yang ingin sekali di-shalat-kan di Masjidil Haram termasuk saya hehe. Pelajaran yang dapat kita ambil dari hal ini adalah mengingatkan kita bahwa kematian itu datang kapan saja dan kepada siapa saja yang waktu di dunia nya sudah habis. Jadi, kita harus mempersiapkan bekal kita dari sekarang, mulai dari detik ini juga karena kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita habis di dunia ini..
Setelah sarapan sekitar pukul 10.00 WSA kami sekeluarga pergi ke mesjid dengan harapan bisa melaksanakan Thawaf Sunnah terlebih dahulu selain itu juga supaya kami dapat tempat untuk shalat dzuhur di dalam mesjid syukur syukur kalau bisa dapat di dekat Ka'bah. Saya dan ibu saya pergi ke mesjid terlebih dahulu, kakak dan ayah saya menyusul. Ketika sudah mulai Thawaf Sunnah, kakak saya dan ayah saya datang. Kakak saya melindungi saya dan ibu saya, mengingat di sana sudah mulai padat. Pada saat putaran ke-4 terlihat ada celah kosong ke arah Ka'bah. Alhamdulillah.. akhirnya kami sekeluarga bisa mendekati Ka'bah, betul-betul sangat dekat dan bahkan saya bisa menyentuhnya. Saya terharu sampai-sampai menitihkan air mata. Timbul suatu perasaan yang sulit saya ungkapkan. Di sana saya bertemu dengan seorang perempuan sepertinya kebangsaan Turki, dia meminta saya untuk mengambilkan foto dirinya di depan Ka'bah. Ibu tersebut ingin mengabadikan moment di depan Ka'bah. Saya pun meng-iya-kan permintaan ibu tersebut. Di foto ibu tersebut terlihat sangat bahagia walaupun matanya masih sembap mungkin karena terharu. Kemudian setelah selesai, ibu tersebut mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi saya. Entah kenapa selama saya di sini saya sering mendapatkan ciuman dari ibu-ibu kebangsaan Turki hehe.. Semoga saya bisa dapat jodoh orang Turki (*eh) -- tapi kalau ada yang mau bantu meng-amiinkan boleh :)
Setelah selesai Thawaf Sunnah, saya dan ibu segera mencari tempat dekat Ka'bah alhamdulillah kami dapat tempat depan Ka'bah. Kami kebagian tempat yang tidak tertutupi oleh atap jadi sinar matahari langsung menyoroti kami. Panas memang panas namun kami mengingat kembali ucapan pak Aam bahwa segala sesuatu yang terjadi di "luar kendali" kita, kita harus sabar dan anggap saja sebagai penyempurna ibadah. Dengan berusaha mengikhlaskan hati terkena sorotan sinar matahari yang cukup panas, dan ketika waktu shalat datang tiba-tiba panas pun mulai berkurang dan berubah menjadi teduh tidak panas sama sekali. Masya Allah. Memang benar ya, kalau kita ikhlas dan sabar dengan keadaan bagaimanapun Allah pun memberikan kemudahan. Jadi kami bisa shalat Dzuhur dengan nyaman. Alhamdulillah.

(bersambung...)

Saturday, April 18, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 1)

Selama ini Bandung adalah kota favorit saya dan saya selalu merasa berat hati jika harus meninggalkan kota kembang yang indah ini. Bandung memiliki cuaca yang "ramah", suhunya tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin sehingga membuat betah setiap penghuninya, dan kondisi lingkungannya pun selalu membuat saya rindu jika saya sedang berada di luar Bandung. Tak jarang saya mengeluh ketika saya sedang pergi mengunjungi kota lain, banyak hal yang saya keluhkan baik cuacanya, lingkungannya dll, misalnya seperti Jakarta. Jujur saja saya tidak suka dengan cuaca di kota Jakarta yang panas dan tanpa adanya angin. Rasanya gak betah untuk berlama-lama tinggal di sana.
Maaf ya untuk warga Jakarta, no offense hehe.
Namun, ada dua kota, yang baru-baru ini saya kunjungi, yang membuat saya takjub dan membuat saya betah hingga rasanya tidak ingin meninggalkan kota tersebut. Kota tersebut adalah kota Mekah dan Madinah. Kedua kota itu merupakan dua kota suci bagi umat muslim. Siapapun yang sudah pernah pergi ke sana pasti ingin kembali lagi, kembali lagi, dan kembali lagi ke sana termasuk saya. Ingin rasanya bisa mengunjungi kedua kota tersebut tiap tahun bahkan tiap bulannya aaammiiin...
Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke tanah suci dan saya pun langsung jatuh cinta dengan kedua kota tersebut dan banyak sekali cerita menarik yang saya dapatkan dari sana. 

Sejak akhir tahun lalu, keluarga kami telah merencanakan untuk pergi beribadah umroh pada bulan April di tahun 2015 ini. Mulai dari beberapa bulan sebelumnya kami pun mencari tahu mengenai biro perjalanan mana saja yang menyelenggarakan ibadah umroh. Setelah berdiskusi, mencari info sana sini, mempertimbangkan plus-minus-nya dan mendapatkan berbagai rekomendasi akhirnya kami memutuskan untuk ikut biro perjalanan dari Percikan Iman yaitu Percik Tours and Travel yang terletak di Jalan Taman Citarum no 9 Bandung, belakang Mesjid Istiqomah. Fasilitas yang kami dapatkan dari pihak Travel sudah cukup lengkap mulai dari kain seragam, 2 buah kerudung Malaya (untuk perempuan), 1 kain ihram (untuk laki-laki), koper, tas kecil, tas sandal/sepatu, ID card, dan pin. Ada poin penting saya suka dari travel ini dan perlu diperhatikan yaitu pada ID Card. ID Card yang akan kami kenakan nanti sebagai ID penganti paspor, di ID card yang kami dapatkan sudah tertera nama hotel dan nomor telfon pembimbing kami selama di sana jadi tidak perlu terlalu khawatir ketika nanti di sana mengalami disorientasi. Hal ini merupakan hal yang kadang terlupakan karena saya mendapatkan beberapa cerita dari orang-orang yang telah melaksanakan umroh sebelumnya merasa kesulitan ketika mereka mengalami disorientasi dan kesulitan menemukan hotel karena hampir sebagian dari mereka meremehkan hal ini dengan tidak mengingat nama hotel dan tidak menyimpan nomor pembimbing. Yap, ini adalah poin plus buat Percik Tours and Travel.
Satu minggu sebelum keberangkatan, semua peserta mengikuti bimbingan sebelum umroh. Di sini kami diperkenalkan dengan pembimbing yang akan membimbing kami selama di tanah suci. Pembimbing kami saat itu adalah Bapak Priyatna Muchlis Nurdin, beliau biasa di sapa Pak Ayat. Bapak Ayat memberikan berbagai penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan dilarang secara detail. Selain itu, pada saat manasik ini para lelaki diajarkan bagaimana mengenakan kain ihram yang baik supaya nanti ketika sedang melaksanakan ibadah umroh bisa benar-benar khusyuk tanpa mengkhawatirkan lagi pakaian ihram-nya bakal terlepas mengingat tidak boleh ada jahitan dalam pakaiannya jadi harus benar-benar dipakai dengan cara yang baik. 
Buku do'a baru kami dapatkan ketika kami mengikuti manasik ya waktu buat menghafalkan do'a-do'anya sekitar 10 hari. Saya sempat rada pesimis saat melihat banyaknya do'a yang harus saya hafalkan hehehe ganbatte!
Tak terasa hari keberangkatan kami untuk beribadah umroh pun datang. Selasa dini hari pukul 3 pagi kami sudah berkumpul di Percikan Iman. Sebelum keberangkatan pak Aam Ammirudin memberikan sambutan dan menyampaikan beberapa hal sebagai bekal kami di sana. Pak Aam terus mengingatkan kami untuk terus mensyukuri dan bersabar ketika kami baik dalam perjalanan maupun sudah sampai di sana mengalami hal yang di luar ekspektasi kita. "Anggap saja itu semua sebagai penyempurna ibadah", ucap pak Aam dan pesan inilah yang terus kami ingat.
Kami pun siap berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta...
Perjalanan pun dimulai, semua peserta masuk ke dalam bis. Tak lupa sebelum berangkat pembimbing membimbing kami untuk membaca do'a safar. Shalat subuh pun dilakukan didalam bis karena kami sudah berangkat dari pukul 3.30 pagi. Perjalanan Bandung-Jakarta alhamdulillah lancar, tak ada hambatan yang berarti. Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih pukul 8.30 pagi. Setelah proses imigrasi kami semua pun beristirahat di lounge sambil sarapan pagi. Pukul 11.00 WIB kami sudah bersiap untuk check-in dan kemudian kami pun siap berangkat. Pesawat yang kami gunakan adalah Garuda Airlines (GA 980), pesawat ini langsung membawa kami menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Saudi Arabia tanpa transit. 

Ini adalah pengalaman pertama saya bepergian menggunakan pesawat terbang, deg-deg-an. Perjalanan Jakarta-Jeddah menghabiskan waktu kurang lebih 9 jam. Lumayan lama ya dan pastinya pegel juga duduk di pesawat selama itu. Saya mendapatkan posisi duduk di sebelah jendela jadi saya bisa melihat pemandangan dari atas awan.. Jeddah, here we go! 
Oiya, karena kami akan langsung untuk melaksanakan ibadah umroh jadi kami melakukan ihlal ihrom-nya di atas pesawat ketika melewati Yalamlam, kurang lebih 25 menit sebelum landing. Alhamdulillah sekitar pukul 17.30 WSA kami telah tiba di Bandara khusus Haji King Abdul Aziz, Jeddah. Di sana kami dijemput oleh shuttle bus menuju tempat imigrasi. Setelah proses imigrasi selesai kami mulai mengambil koper. Kemudian tim Percikan Iman dari Arab Saudi pun datang, yaitu kang Arsyad dan kang Roni, mereka dengan sigap mengurusi koper-koper yang kami bawa menuju bus yang akan membawa kami menuju tanah Haram, Mekah. Di dalam bus, kami diberi snack yang berupa roti croissant, merk 7 days dan minuman buah segar, merk Caesar. Ketika saya mencicipi roti yang diberikan oleh panitia mata saya langsung berbinar-binar. Rasa roti cokelatnya benar-benar enak, enak banget. Baru pertama kali nyoba roti cokelat seenak ini ya ampun. Rasa cokelatnya itu yang bikin jatuh cinta hehe.. Setelah kenyang menikmati roti cokelat, tanpa sadar saya tertidur di perjalanan menuju hotel di Mekah. Ketika saya membuka mata saya sudah hampir tiba di hotel. Oiya, perjalanan dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah ke Mekah memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. 
Akhirnya kami pun tiba di hotel, kami istirahat sejenak dan makan malam terlebih dahulu. Menu makan malam di hotel ini sangat Indonesia tapinya dengan bumbu khas Arab. Menu makan malam kali ini membuat saya sangat selera untuk makan karena sang koki menghidangkan cumi-cumi sebagai menunya. Alhamdulillah.. saya sangat suka cumi-cumi jadi saya sangat bersemangat ketika melihat hidangan makan malamnya. YES! hehe
Hotel yang kami tempati di kota Mekah cukup kecil, orang bilang sih seperti losmen bukan hotel, tapi jaraknya yang dekat dengan Masjidil Haram dan posisinya tepat di pinggir jalan sangat memudahkan kami. Jadi kalau buat saya tidak jadi masalah. That wasn't a big deal because the most important things were we could find our hotel easily and this hotel served many delicious Indonesian food. That's enough.
Setelah kami selesai makan malam, kami bersiap menuju Masjidil Haram untuk beribadah umroh. Para lelaki pun sudah siap mengenakan kain ihram yang telah dipakainya dari pesawat ketika miqat di Yalamlam. 
Di Lobby Tsarawat Qasr Hotel, bersiap menuju Masjidil Haram
Selama perjalanan menuju Masjidil Haram, kami terus ber-talbiyah, "Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik, Innal Hamda Wan-ni'mata Laka Walmulk, Laa Syarika Lak". Kami terus ber-talbiyah hingga kami melihat Ka'bah. Ketika melihat Ka'bah untuk pertama kalinya, Subhanallah.. Sungguh luar biasa, saya tidak percaya. Saya bisa melihat yang selama ini menjadi kiblat kita ketika shalat di depan mata saya. Hal ini seperti mimpi yang jadi kenyataan masya Allah. Ka'bah adalah bangunan pertama yang dibangun di muka bumi ini. Saya benar-benar terharu bisa melihat Ka'bah secara langsung, speechless. Bagi kalian umat muslim, baiknya kalian menyimpan agenda untuk mengunjungi tanah Haram ini sebagai destinasi utama dan pasti nantinya ingin berkali-kali untuk kembali ke sana. Tidak tahu mengapa seperti ada daya tarik yang sangat kuat ketika kita sedang berada di sana. Setelah melaksanakan serangkaian ibadah umroh, ada perasaan senang, senang karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi tanah suci ini. Walaupun ketika sampai kami langsung melaksanakan ibadah umroh, kami semua tidak merasakan lelah sedikit pun. Saya memperhatikan beberapa teman serombongan lainnya tampak wajahnya yang berseri-seri karena bahagia bahkan salah satu peserta yang paling senior di antara kami pun tidak mengeluh sedikitpun dan tetap terlihat semangat. Syukur alhamdulillah.
Setelah selesai Tahalul di pelataran Masjidil Haram

 Alhamdulillah... Hari pertama di Mekah, kami habiskan dengan rasa penuh syukur, dan bahagia..

(bersambung...)          

Sunday, February 1, 2015

A Life Lessons in Selling Pineapple

A Life Lessons in Selling Pineapple!

Several weeks ago, I found this video from my lecturer's timeline in his Facebook. I just wondered what kind of video it was then I clicked it to watch this video. This video told about a mother, her daughter, and pineapple. In the opening, the mother told that she didn't go to school and she said she didn't know how to teach her daughter. The only thing that she could do was showing her daughter by giving an example. She thought giving an example was the best way to teach her daughter.
You should watch this video..
Believe or not, teaching will be more  more effective by giving them an example directly than giving only theory.
For parents, I highly recommend you to watch this video.
Just clicked this link below.

Friday, January 2, 2015

Yuk, Kita Berhijab!

Hari ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya menggunakan hijab. Hehe saya terinspirasi menulis tentang ini karena beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman sebuah buku bagus yang membahas mengenai hijab, judulnya "Yuk, Berhijab". Buku ini ditulis oleh Ustad Felix Siauw. Hmm ini adalah buku kedua yang saya baca dari karya Ustad Felix Siauw. Buku ini memaparkan secara rinci mengenai hijab, menariknya bab pertama dari bab ini membahas mengenai bagaimana perempuan dalam Islam mulai dari peradaban Yunani Kuno hingga sekarang. Sungguh melegakan karena Islam benar-benar agama yang memberikan perlindungan dan keistimewaan bagi kaum perempuan, Subhanallah...
Bab selanjutnya mulai membahas mengenai hijab dalam Islam, perintah menutup aurat itu sebenarnya adalah perintah Allah SWT. Perintah ini sudah jelas, terdapat pada surat An-Nuur (24) ayat 31, Allah berfirman:


"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."    
Betapa jelasnya perintah Allah SWT bagi kaum perempuan untuk menutup aurat. Ketika pengetahuan saya tentang agama belum cukup mendalam dan belum banyak mencari tahu tentang hal ini saya berpikir bahwa menutup aurat adalah pilihan jadi kita boleh memilih untuk mengenakan hijab atau tidak namun setelah saya mencari tahu ternyata saya salah besar. Perintah menutup aurat sudah jelas tercantum dalam Al Quran, menutup aurat merupakan suatu kewajiban bagi seorang perempuan muslim yang sama wajibnya dengan perintah untuk sholat. Nah, sekarang saya akan berbagi pengalaman saat saya dulu memutuskan untuk mengenakan hijab.
Saya baru mengenakan hijab pada tahun 2009, tahun kedua saya masuk dunia perkuliahan. Saat itu, ada mata kuliah agama Islam yang mengharuskan setiap mahasiswa dan mahasiswinya mengikuti mentoring (pendalaman agama dengan para senior). Mentoring ini dibagi ke dalam beberapa kelompok dan jadwal untuk mentoring bisa dibilang fleksibel mengikuti jadwal kuliah yang kosong. Awalnya, saya berada di kelompok 10 (kalau saya tidak salah mengingat hehe) namun karena sang kakak mentor sering kali berhalangan hadir jadi saya memutuskan untuk pindah kelompok ke kelompok sahabat saya. Ketika pertama kali saya mengikuti mentoring di kelompok yang baru saya merasa nyaman, selain ada sahabat saya hehe, kakak mentornya pun bisa menyampaikan materi dengan menarik tanpa terkesan mengajari. Oiya, setiap masuk pelajaran agama Islam para perempuan diwajibkan memakai kerudung, hanya untuk mata kuliah itu saja. Otomatis satu minggu sekali kami mengenakan kerudung tapi hanya pada saat mata kuliah agama saja hehehe. Mentoring pun terus berlanjut, tak jarang saya menanyakan beberapa hal kepada sang mentor yang saya belum pahami. Suatu saat, kakak mentor saya membahas mengenai hijab. Penjelasan panjang lebar pun ia berikan, berharap kami mengerti. Di akhir pertemuan tersebut, kakak mentor saya pun bertanya pada kami sambil tersenyum, "So, kapan nih mau mulai pake hijab? Kan ayatnya udah jelas, ada loh di Al-Qur'an...hehehe". Sontak kami pun kaget dan malu, ada yang mulai senyum-senyum sendiri, dan ada yang mengatakan "Saya belum siap teh, mending hatinya aja dulu deh yang 'dikerudungin'. hehe", beberapa mengangguk menyetujui hal itu. Kakak mentor pun menjawab, "Kan bisa, sambil ditutup auratnya, sambil dijaga juga hatinya malah karena udah pake kerudung jadinya kan bisa menjaga kelakuan kita, kan? Hayo!". Tak cukup sampai di situ yang lain pun mulai berkomentar, "Kan malu teh, udah pake kerudung eh terus taunya dilepas lagi mendingan nantikan pas kita udah bener-bener siap jadi ga pasang copot, pasang copot lagi. hehe". Kakak mentor pun sabar menjawab, "Siapnya kapan? Emang ade tau umurnya bakal sampe kapan?", lalu salah seorang teman saya pun berkomentar, "saya mau pake hijab nanti kalo udah nikah teh,hehe".. Kakak mentor pun menjawab lagi "Nanti kalo udah keburu dipanggil gimana?, tau ga kalo kita sampe meninggal terus kita belum pake hijab itu bisa masuk neraka dan ga cuma itu, sebenernya buat kita yang belum nikah kita bisa menyeret ayah kita ke dalam neraka. Satu langkah kita keluar tanpa menutup aurat, itu berarti satu langkah kita menyeret ayah kita ke dalam neraka. Hayo coba, tega ga nyeret ayah kita ke neraka?" Ya, semoga aja masih ada umur ya sampe nanti kamu nikah hehe". Mendengar jawaban tadi kami semua pun terdiam. Pertemuan selanjutnya, sang kakak mentor tak lelah menanyakan hal ini kepada kami walaupun beliau tahu bahwa kami masih ogah-ogah mengenakan kerudung yang kami ketahui bahwa itu hukumnya wajib bagi seorang perempuan muslim. 
Lama-lama saya pun menjadi penasaran sangat penasaran kenapa sih kakak mentor ku yang satu ini getol banget ngingetin kita buat pake kerudung. Suatu ketika akhirnya saya pun menemui kakak mentor saya dengan ditemani sahabat saya, yang sudah dari SMP mengenakan hijab. Di sana saya menanyakan banyak hal dan beberapa kemungkinan yang saya takutkan akan terjadi jika nanti ketika saya telah memutuskan mengenakan hijab. Dengan sabar kakak mentor saya menjelaskan dengan perlahan. Hal yang saat itu saya takutkan adalah saya takut bagaimana jika nanti saya sudah mengenakan hijab saya memutuskan melepaskannya, malu banget apa kata orang? Kakak mentor saya pun menjelaskan, bahwa memang mengenakan hijab itu membutuhkan proses. Jadi kalau mau perlahan-lahan ya enggak apa-apa, yang penting niat kita lurus karena Allah semata untuk melaksanakan perintah-Nya. Sepulang dari pertemuan tersebut hati saya mulai gelisah gak karuan, saya tidak tenang sama sekali. Saya berpikir jika memutuskan saya takut kalo nanti baru berapa hari kemudian dicopot gimana? Aduh, tapi kalo besok udah dipanggil sama Allah pulang ke rahmatullah gimana? aaaaaaa... semalaman itu saya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak, sampai akhirnya saya mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kakak mentor tersebut yang berisi, "Teh, saya mau pake kerudung. Mohon bimbingannya ya teh. Bismillah." Kakak mentor saya pun menyambut bahagia akan keputusan saya tersebut. Beliau membalas, "Alhamdulillah, iya insya Allah semoga Allah mengistiqomahkan niatmu ya dan semoga ini bisa menjadi amal kebaikan buat ade." Kegelisahan saya pun berangsur-angsur hilang. Saya berdoa agar dikuatkan niat saya tersebut untuk menutup aurat.
Keesokan paginya, saya pun meminta izin kepada ibu saya bahwa saya akan mengenakan kerudung ternyata responnya di luar dugaan. Ibu saya menanyakan keputusan saya ini sampai berkali-kali karena ibu saya tidak mau ketika saya sudah berkerudung kemudian memutuskan untuk melepaskannya kembali dan kembali menyerahkan keputusan kepada saya sendiri. Namun saat itu ibu saya terlihat tidak begitu setuju dengan keputusan saya ini. Walaupun begitu, saya tetap mantap untuk menutup aurat. Berbeda dengan ibu saya tadi, sahabat seperjuangan saya menyambut baik keputusan saya ini. Ia memberikan sebuah buku mengenai jilbab untuk mencari tahu lebih dalam.
Niat baik memang banyak sekali tantangan dan godaannya, ya saya harus melewati ujian di saat pertama kali saya memutuskan mengenakan kerudung ini. Beberapa hari kemudian, setelah saya memutuskan berkerudung dukungan dari ibu saya pun masih tak kunjung datang. Bahkan tak jarang kakak saya pun mengejek saya ketika memakai kerudung saya terlihat seperti ibu-ibu, nenek-nenek, bibi-bibi pokonya sesuatu dengan maksud mengejek. Saya sempat merasa tertekan karena saya tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat saya, yaitu keluarga. Betapa sedihnya, hampir setiap hari saya menangis untungnya selain Allah telah mengistiqomahkan hati saya, saya juga memiliki sahabat yang terus membantu menguatkan niat saya ini. Saya sangat sedih, pernah suatu waktu pada saat saya akan pergi bersama ibu saya, ibu saya mengatakan "hmm jadi ibu harus pake kerudung juga kalo pergi sama kamu." Saya sangat kaget mendengar perkataan ibu saya tersebut, bagaimana tidak seolah-olah kerudung ini menjadi suatu beban jika ibu saya pergi bersama dengan saya. Sedih sekali, sampai saya sempat merasa pake kerudung ini merupakan keputusan yang salah buat saya karena seperti sebuah beban bagi ibu jika berada bersama saya. Alhamdullilah, Allah telah memberikan saya seorang sahabat yang hebat yang tak henti-hentinya menyemangati dan menguatkan saya dan kamu tahu apa? setelah beberapa bulan saya mengalami hari yang cukup berat mengenakan kerudung, berangsur-angsur ejekan dari kakak saya pun tak lagi dilontarkan dan ibu saya pun mulai mengenakan kerudung dengan kemauannya sendiri. Alhamdulillah...
Memang ya kalau kita tetap istiqomah melaksanakan perintah-Nya asal karena Allah semata, insya Allah Allah akan memudahkan jalan kita.  
Jujur, sampai sakarang saya terus mencari tahu bagaimana cara berpakaian yang sebenarnya sebagai seorang muslimah. Di awal-awal mengenakan kerudung saya masih buka copot di dalam rumah, saya masih lupa pakai kerudung kalau pergi ke teras rumah bahkan saya pernah membiarkan seseorang yang bukan mahram saya melihat saya tanpa mengenakan kerudung. Astagfirullah. Masa-masa itu saya anggap sebagai masa jahiliah saya, masa kebodohan. Bersyukur sekarang sudah sedikit demi sedikit meluruskan niat kembali untuk siapa sebenarnya saya mengenakan hijab ini kalau bukan untuk Allah semata.
Namun, ya setiap perubahan itu butuh proses mungkin hanya membutuhkan waktu yang pendek atau bahkan waktu yang cukup panjang. Yang terpenting dari semua itu adalah niatnya kita mau berubah menjadi baik dan lebih baik lagi. Walaupun ada badai besar yang menghantam, kalau niat kita kuat karena Allah SWT insya Allah kita akan dibukakan jalan untuk terus istiqomah.. 
Oiya, ada hal yang ingin saya tambahkan mengenai perempuan yang sudah berkerudung namun yang katanya dirasa kurang pas, janganlah kita menghakimi mereka apapun dan bagaimana pun cara berpakaian dan tingkah laku mereka tidak usah kita hiraukan semuanya bergantung kepada niatnya masing-masing dan hal itu yang akan dipertanggungjawabkan oleh kita masing-masing secara pribadi. Baiknya kita hargai saya upaya mereka untuk menutup aurat. Dan mereka yang menutup aurat lebih baik dari mereka yang belum menutup aurat. So, hayo kapan nih siap untuk berhijab? 
Semoga tulisan ini bermanfaat.. Aamiin