Sunday, April 19, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 2)

Hari kedua di Makkah Al Mukarramah..
Hari ini kami diberi kebebasan untuk menentukan acara kami sendiri tentunya kesempatan ini tidak kami sia-sia kan untuk memaksimalkan ibadah di Masjidil Haram. Di sana kami melaksanakan Shalat Fajr (Subuh) sekitar pukul 4.43, karena masih terbawa suasana di tanah air dengan santai kami berangkat pukul 3.30 dari hotel yang jaraknya kurang lebih 300 meter dengan Masjidil Haram dan ketika kami sampai dipelataran mesjid dari kejauhan pintu mesjid sudah ditutup. Saya kaget karena saya pikir ini masih 1 jam sebelum shalat tapi saya dan keluarga saya tidak mendapatkan tempat di dalam mesjid. Akhirnya saya dan ibu saya shalat di pelataran mesjid dan kakak serta ayah saya shalat di lantai paling atas. Ini merupakan pelajaran penting yang kami dapatkan. Pertama, di sini kami diharuskan untuk belajar lebih disiplin lagi dalam beribadah yang tentunya disiplin ini harus tetap kami terapkan ketika pulang ke tanah air nanti. Kedua, mengenai semangat untuk beribadah ya ini sangat terlihat jelas semangat orang-orang yang datang untuk beribadah ke Masjidil Haram, mereka berbondong-bondong datang 2-3 jam sebelum waktu shalat tiba. Kalau kita bandingkan dengan yang terjadi di tempat kita itu bisa dibilang jauh sekali ya semangat ke mesjidnya. Malah udah tinggal 5 menit lagi sebelum waktu shalat mesjid masih kosong masya Allah berbeda sekali ya? Mudah-mudahan semangat ini bisa terus terbawa dimana pun kita berada amiin.
Setelah Shalat Subuh berjama'ah di mesjid, saya dan ibu saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Di sepanjang jalan ada banyak toko-toko yang menjual makanan. Semua toko dipenuhi oleh  para pembeli, saya pun menjadi penasaran untuk mencicipi jajanan khas Timur Tengah. Akhirnya saya mencoba kebab, ternyata kebab di sana sama seperti hot dog. Jadi kebab di sana dengan kebab di sini berbeda jenis. Dari segi rasa, hmm filling rotinya sedikit hambar cukup berbeda ya dengan Indonesia yang rasanya kaya akan bumbu. Kebab-nya saya kasih nilai 6 dari 10. Kebab yang saya beli isi nugget ayam dan ayam bumbu kari. Harga kebab-nya itu 4 Real/ buah.
Saya dan ibu saya melanjutkan perjalanan menuju hotel. Selesai shalat subuh sekitar pukul 5.30 dan kami memilih untuk beristirahat terlebih dahulu di kamar, mungkin karena terlalu lelah kami pun tertidur sejenak dan terbangun pukul 6.30 WSA. Hampir saja kami melewatkan jam makan pagi. Jadwal makan pagi di hotel kami mulai pukul 6.00 - 8.00 WSA. Peserta harus mengikuti jadwal makan tepat waktu karena jika sudah lewat dari jadwalnya semua makanan sudah habis dibuang. Makan itu penting untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit jadi jangan sampai melewatkan jam makan.
Karena hari ini kami diberi kebebasan, jadi kami habiskan waktu di Masjidil Haram untuk mengikuti shalat berjama'ah dan melaksanakan Thawaf Sunnah. Di Masjidil Haram, setiap kita selesai melaksanakan Shalat Fardhu, kita akan melaksanakan shalat Jenazah. Sehari berarti kita melaksanakan shalat jenazah 5x setiap harinya. Banyak orang yang ingin sekali di-shalat-kan di Masjidil Haram termasuk saya hehe. Pelajaran yang dapat kita ambil dari hal ini adalah mengingatkan kita bahwa kematian itu datang kapan saja dan kepada siapa saja yang waktu di dunia nya sudah habis. Jadi, kita harus mempersiapkan bekal kita dari sekarang, mulai dari detik ini juga karena kita tidak akan pernah tahu kapan waktu kita habis di dunia ini..
Setelah sarapan sekitar pukul 10.00 WSA kami sekeluarga pergi ke mesjid dengan harapan bisa melaksanakan Thawaf Sunnah terlebih dahulu selain itu juga supaya kami dapat tempat untuk shalat dzuhur di dalam mesjid syukur syukur kalau bisa dapat di dekat Ka'bah. Saya dan ibu saya pergi ke mesjid terlebih dahulu, kakak dan ayah saya menyusul. Ketika sudah mulai Thawaf Sunnah, kakak saya dan ayah saya datang. Kakak saya melindungi saya dan ibu saya, mengingat di sana sudah mulai padat. Pada saat putaran ke-4 terlihat ada celah kosong ke arah Ka'bah. Alhamdulillah.. akhirnya kami sekeluarga bisa mendekati Ka'bah, betul-betul sangat dekat dan bahkan saya bisa menyentuhnya. Saya terharu sampai-sampai menitihkan air mata. Timbul suatu perasaan yang sulit saya ungkapkan. Di sana saya bertemu dengan seorang perempuan sepertinya kebangsaan Turki, dia meminta saya untuk mengambilkan foto dirinya di depan Ka'bah. Ibu tersebut ingin mengabadikan moment di depan Ka'bah. Saya pun meng-iya-kan permintaan ibu tersebut. Di foto ibu tersebut terlihat sangat bahagia walaupun matanya masih sembap mungkin karena terharu. Kemudian setelah selesai, ibu tersebut mengucapkan terima kasih sambil mencium pipi saya. Entah kenapa selama saya di sini saya sering mendapatkan ciuman dari ibu-ibu kebangsaan Turki hehe.. Semoga saya bisa dapat jodoh orang Turki (*eh) -- tapi kalau ada yang mau bantu meng-amiinkan boleh :)
Setelah selesai Thawaf Sunnah, saya dan ibu segera mencari tempat dekat Ka'bah alhamdulillah kami dapat tempat depan Ka'bah. Kami kebagian tempat yang tidak tertutupi oleh atap jadi sinar matahari langsung menyoroti kami. Panas memang panas namun kami mengingat kembali ucapan pak Aam bahwa segala sesuatu yang terjadi di "luar kendali" kita, kita harus sabar dan anggap saja sebagai penyempurna ibadah. Dengan berusaha mengikhlaskan hati terkena sorotan sinar matahari yang cukup panas, dan ketika waktu shalat datang tiba-tiba panas pun mulai berkurang dan berubah menjadi teduh tidak panas sama sekali. Masya Allah. Memang benar ya, kalau kita ikhlas dan sabar dengan keadaan bagaimanapun Allah pun memberikan kemudahan. Jadi kami bisa shalat Dzuhur dengan nyaman. Alhamdulillah.

(bersambung...)

Saturday, April 18, 2015

Tertambat Hati di Tanah Suci (Bagian 1)

Selama ini Bandung adalah kota favorit saya dan saya selalu merasa berat hati jika harus meninggalkan kota kembang yang indah ini. Bandung memiliki cuaca yang "ramah", suhunya tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin sehingga membuat betah setiap penghuninya, dan kondisi lingkungannya pun selalu membuat saya rindu jika saya sedang berada di luar Bandung. Tak jarang saya mengeluh ketika saya sedang pergi mengunjungi kota lain, banyak hal yang saya keluhkan baik cuacanya, lingkungannya dll, misalnya seperti Jakarta. Jujur saja saya tidak suka dengan cuaca di kota Jakarta yang panas dan tanpa adanya angin. Rasanya gak betah untuk berlama-lama tinggal di sana.
Maaf ya untuk warga Jakarta, no offense hehe.
Namun, ada dua kota, yang baru-baru ini saya kunjungi, yang membuat saya takjub dan membuat saya betah hingga rasanya tidak ingin meninggalkan kota tersebut. Kota tersebut adalah kota Mekah dan Madinah. Kedua kota itu merupakan dua kota suci bagi umat muslim. Siapapun yang sudah pernah pergi ke sana pasti ingin kembali lagi, kembali lagi, dan kembali lagi ke sana termasuk saya. Ingin rasanya bisa mengunjungi kedua kota tersebut tiap tahun bahkan tiap bulannya aaammiiin...
Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke tanah suci dan saya pun langsung jatuh cinta dengan kedua kota tersebut dan banyak sekali cerita menarik yang saya dapatkan dari sana. 

Sejak akhir tahun lalu, keluarga kami telah merencanakan untuk pergi beribadah umroh pada bulan April di tahun 2015 ini. Mulai dari beberapa bulan sebelumnya kami pun mencari tahu mengenai biro perjalanan mana saja yang menyelenggarakan ibadah umroh. Setelah berdiskusi, mencari info sana sini, mempertimbangkan plus-minus-nya dan mendapatkan berbagai rekomendasi akhirnya kami memutuskan untuk ikut biro perjalanan dari Percikan Iman yaitu Percik Tours and Travel yang terletak di Jalan Taman Citarum no 9 Bandung, belakang Mesjid Istiqomah. Fasilitas yang kami dapatkan dari pihak Travel sudah cukup lengkap mulai dari kain seragam, 2 buah kerudung Malaya (untuk perempuan), 1 kain ihram (untuk laki-laki), koper, tas kecil, tas sandal/sepatu, ID card, dan pin. Ada poin penting saya suka dari travel ini dan perlu diperhatikan yaitu pada ID Card. ID Card yang akan kami kenakan nanti sebagai ID penganti paspor, di ID card yang kami dapatkan sudah tertera nama hotel dan nomor telfon pembimbing kami selama di sana jadi tidak perlu terlalu khawatir ketika nanti di sana mengalami disorientasi. Hal ini merupakan hal yang kadang terlupakan karena saya mendapatkan beberapa cerita dari orang-orang yang telah melaksanakan umroh sebelumnya merasa kesulitan ketika mereka mengalami disorientasi dan kesulitan menemukan hotel karena hampir sebagian dari mereka meremehkan hal ini dengan tidak mengingat nama hotel dan tidak menyimpan nomor pembimbing. Yap, ini adalah poin plus buat Percik Tours and Travel.
Satu minggu sebelum keberangkatan, semua peserta mengikuti bimbingan sebelum umroh. Di sini kami diperkenalkan dengan pembimbing yang akan membimbing kami selama di tanah suci. Pembimbing kami saat itu adalah Bapak Priyatna Muchlis Nurdin, beliau biasa di sapa Pak Ayat. Bapak Ayat memberikan berbagai penjelasan mengenai hal-hal yang boleh dilakukan dan dilarang secara detail. Selain itu, pada saat manasik ini para lelaki diajarkan bagaimana mengenakan kain ihram yang baik supaya nanti ketika sedang melaksanakan ibadah umroh bisa benar-benar khusyuk tanpa mengkhawatirkan lagi pakaian ihram-nya bakal terlepas mengingat tidak boleh ada jahitan dalam pakaiannya jadi harus benar-benar dipakai dengan cara yang baik. 
Buku do'a baru kami dapatkan ketika kami mengikuti manasik ya waktu buat menghafalkan do'a-do'anya sekitar 10 hari. Saya sempat rada pesimis saat melihat banyaknya do'a yang harus saya hafalkan hehehe ganbatte!
Tak terasa hari keberangkatan kami untuk beribadah umroh pun datang. Selasa dini hari pukul 3 pagi kami sudah berkumpul di Percikan Iman. Sebelum keberangkatan pak Aam Ammirudin memberikan sambutan dan menyampaikan beberapa hal sebagai bekal kami di sana. Pak Aam terus mengingatkan kami untuk terus mensyukuri dan bersabar ketika kami baik dalam perjalanan maupun sudah sampai di sana mengalami hal yang di luar ekspektasi kita. "Anggap saja itu semua sebagai penyempurna ibadah", ucap pak Aam dan pesan inilah yang terus kami ingat.
Kami pun siap berangkat menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta...
Perjalanan pun dimulai, semua peserta masuk ke dalam bis. Tak lupa sebelum berangkat pembimbing membimbing kami untuk membaca do'a safar. Shalat subuh pun dilakukan didalam bis karena kami sudah berangkat dari pukul 3.30 pagi. Perjalanan Bandung-Jakarta alhamdulillah lancar, tak ada hambatan yang berarti. Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta kurang lebih pukul 8.30 pagi. Setelah proses imigrasi kami semua pun beristirahat di lounge sambil sarapan pagi. Pukul 11.00 WIB kami sudah bersiap untuk check-in dan kemudian kami pun siap berangkat. Pesawat yang kami gunakan adalah Garuda Airlines (GA 980), pesawat ini langsung membawa kami menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Saudi Arabia tanpa transit. 

Ini adalah pengalaman pertama saya bepergian menggunakan pesawat terbang, deg-deg-an. Perjalanan Jakarta-Jeddah menghabiskan waktu kurang lebih 9 jam. Lumayan lama ya dan pastinya pegel juga duduk di pesawat selama itu. Saya mendapatkan posisi duduk di sebelah jendela jadi saya bisa melihat pemandangan dari atas awan.. Jeddah, here we go! 
Oiya, karena kami akan langsung untuk melaksanakan ibadah umroh jadi kami melakukan ihlal ihrom-nya di atas pesawat ketika melewati Yalamlam, kurang lebih 25 menit sebelum landing. Alhamdulillah sekitar pukul 17.30 WSA kami telah tiba di Bandara khusus Haji King Abdul Aziz, Jeddah. Di sana kami dijemput oleh shuttle bus menuju tempat imigrasi. Setelah proses imigrasi selesai kami mulai mengambil koper. Kemudian tim Percikan Iman dari Arab Saudi pun datang, yaitu kang Arsyad dan kang Roni, mereka dengan sigap mengurusi koper-koper yang kami bawa menuju bus yang akan membawa kami menuju tanah Haram, Mekah. Di dalam bus, kami diberi snack yang berupa roti croissant, merk 7 days dan minuman buah segar, merk Caesar. Ketika saya mencicipi roti yang diberikan oleh panitia mata saya langsung berbinar-binar. Rasa roti cokelatnya benar-benar enak, enak banget. Baru pertama kali nyoba roti cokelat seenak ini ya ampun. Rasa cokelatnya itu yang bikin jatuh cinta hehe.. Setelah kenyang menikmati roti cokelat, tanpa sadar saya tertidur di perjalanan menuju hotel di Mekah. Ketika saya membuka mata saya sudah hampir tiba di hotel. Oiya, perjalanan dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah ke Mekah memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. 
Akhirnya kami pun tiba di hotel, kami istirahat sejenak dan makan malam terlebih dahulu. Menu makan malam di hotel ini sangat Indonesia tapinya dengan bumbu khas Arab. Menu makan malam kali ini membuat saya sangat selera untuk makan karena sang koki menghidangkan cumi-cumi sebagai menunya. Alhamdulillah.. saya sangat suka cumi-cumi jadi saya sangat bersemangat ketika melihat hidangan makan malamnya. YES! hehe
Hotel yang kami tempati di kota Mekah cukup kecil, orang bilang sih seperti losmen bukan hotel, tapi jaraknya yang dekat dengan Masjidil Haram dan posisinya tepat di pinggir jalan sangat memudahkan kami. Jadi kalau buat saya tidak jadi masalah. That wasn't a big deal because the most important things were we could find our hotel easily and this hotel served many delicious Indonesian food. That's enough.
Setelah kami selesai makan malam, kami bersiap menuju Masjidil Haram untuk beribadah umroh. Para lelaki pun sudah siap mengenakan kain ihram yang telah dipakainya dari pesawat ketika miqat di Yalamlam. 
Di Lobby Tsarawat Qasr Hotel, bersiap menuju Masjidil Haram
Selama perjalanan menuju Masjidil Haram, kami terus ber-talbiyah, "Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika Laa Syariika Laka Labbaik, Innal Hamda Wan-ni'mata Laka Walmulk, Laa Syarika Lak". Kami terus ber-talbiyah hingga kami melihat Ka'bah. Ketika melihat Ka'bah untuk pertama kalinya, Subhanallah.. Sungguh luar biasa, saya tidak percaya. Saya bisa melihat yang selama ini menjadi kiblat kita ketika shalat di depan mata saya. Hal ini seperti mimpi yang jadi kenyataan masya Allah. Ka'bah adalah bangunan pertama yang dibangun di muka bumi ini. Saya benar-benar terharu bisa melihat Ka'bah secara langsung, speechless. Bagi kalian umat muslim, baiknya kalian menyimpan agenda untuk mengunjungi tanah Haram ini sebagai destinasi utama dan pasti nantinya ingin berkali-kali untuk kembali ke sana. Tidak tahu mengapa seperti ada daya tarik yang sangat kuat ketika kita sedang berada di sana. Setelah melaksanakan serangkaian ibadah umroh, ada perasaan senang, senang karena diberikan kesempatan untuk mengunjungi tanah suci ini. Walaupun ketika sampai kami langsung melaksanakan ibadah umroh, kami semua tidak merasakan lelah sedikit pun. Saya memperhatikan beberapa teman serombongan lainnya tampak wajahnya yang berseri-seri karena bahagia bahkan salah satu peserta yang paling senior di antara kami pun tidak mengeluh sedikitpun dan tetap terlihat semangat. Syukur alhamdulillah.
Setelah selesai Tahalul di pelataran Masjidil Haram

 Alhamdulillah... Hari pertama di Mekah, kami habiskan dengan rasa penuh syukur, dan bahagia..

(bersambung...)