Friday, January 2, 2015

Yuk, Kita Berhijab!

Hari ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman saya menggunakan hijab. Hehe saya terinspirasi menulis tentang ini karena beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman sebuah buku bagus yang membahas mengenai hijab, judulnya "Yuk, Berhijab". Buku ini ditulis oleh Ustad Felix Siauw. Hmm ini adalah buku kedua yang saya baca dari karya Ustad Felix Siauw. Buku ini memaparkan secara rinci mengenai hijab, menariknya bab pertama dari bab ini membahas mengenai bagaimana perempuan dalam Islam mulai dari peradaban Yunani Kuno hingga sekarang. Sungguh melegakan karena Islam benar-benar agama yang memberikan perlindungan dan keistimewaan bagi kaum perempuan, Subhanallah...
Bab selanjutnya mulai membahas mengenai hijab dalam Islam, perintah menutup aurat itu sebenarnya adalah perintah Allah SWT. Perintah ini sudah jelas, terdapat pada surat An-Nuur (24) ayat 31, Allah berfirman:


"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."    
Betapa jelasnya perintah Allah SWT bagi kaum perempuan untuk menutup aurat. Ketika pengetahuan saya tentang agama belum cukup mendalam dan belum banyak mencari tahu tentang hal ini saya berpikir bahwa menutup aurat adalah pilihan jadi kita boleh memilih untuk mengenakan hijab atau tidak namun setelah saya mencari tahu ternyata saya salah besar. Perintah menutup aurat sudah jelas tercantum dalam Al Quran, menutup aurat merupakan suatu kewajiban bagi seorang perempuan muslim yang sama wajibnya dengan perintah untuk sholat. Nah, sekarang saya akan berbagi pengalaman saat saya dulu memutuskan untuk mengenakan hijab.
Saya baru mengenakan hijab pada tahun 2009, tahun kedua saya masuk dunia perkuliahan. Saat itu, ada mata kuliah agama Islam yang mengharuskan setiap mahasiswa dan mahasiswinya mengikuti mentoring (pendalaman agama dengan para senior). Mentoring ini dibagi ke dalam beberapa kelompok dan jadwal untuk mentoring bisa dibilang fleksibel mengikuti jadwal kuliah yang kosong. Awalnya, saya berada di kelompok 10 (kalau saya tidak salah mengingat hehe) namun karena sang kakak mentor sering kali berhalangan hadir jadi saya memutuskan untuk pindah kelompok ke kelompok sahabat saya. Ketika pertama kali saya mengikuti mentoring di kelompok yang baru saya merasa nyaman, selain ada sahabat saya hehe, kakak mentornya pun bisa menyampaikan materi dengan menarik tanpa terkesan mengajari. Oiya, setiap masuk pelajaran agama Islam para perempuan diwajibkan memakai kerudung, hanya untuk mata kuliah itu saja. Otomatis satu minggu sekali kami mengenakan kerudung tapi hanya pada saat mata kuliah agama saja hehehe. Mentoring pun terus berlanjut, tak jarang saya menanyakan beberapa hal kepada sang mentor yang saya belum pahami. Suatu saat, kakak mentor saya membahas mengenai hijab. Penjelasan panjang lebar pun ia berikan, berharap kami mengerti. Di akhir pertemuan tersebut, kakak mentor saya pun bertanya pada kami sambil tersenyum, "So, kapan nih mau mulai pake hijab? Kan ayatnya udah jelas, ada loh di Al-Qur'an...hehehe". Sontak kami pun kaget dan malu, ada yang mulai senyum-senyum sendiri, dan ada yang mengatakan "Saya belum siap teh, mending hatinya aja dulu deh yang 'dikerudungin'. hehe", beberapa mengangguk menyetujui hal itu. Kakak mentor pun menjawab, "Kan bisa, sambil ditutup auratnya, sambil dijaga juga hatinya malah karena udah pake kerudung jadinya kan bisa menjaga kelakuan kita, kan? Hayo!". Tak cukup sampai di situ yang lain pun mulai berkomentar, "Kan malu teh, udah pake kerudung eh terus taunya dilepas lagi mendingan nantikan pas kita udah bener-bener siap jadi ga pasang copot, pasang copot lagi. hehe". Kakak mentor pun sabar menjawab, "Siapnya kapan? Emang ade tau umurnya bakal sampe kapan?", lalu salah seorang teman saya pun berkomentar, "saya mau pake hijab nanti kalo udah nikah teh,hehe".. Kakak mentor pun menjawab lagi "Nanti kalo udah keburu dipanggil gimana?, tau ga kalo kita sampe meninggal terus kita belum pake hijab itu bisa masuk neraka dan ga cuma itu, sebenernya buat kita yang belum nikah kita bisa menyeret ayah kita ke dalam neraka. Satu langkah kita keluar tanpa menutup aurat, itu berarti satu langkah kita menyeret ayah kita ke dalam neraka. Hayo coba, tega ga nyeret ayah kita ke neraka?" Ya, semoga aja masih ada umur ya sampe nanti kamu nikah hehe". Mendengar jawaban tadi kami semua pun terdiam. Pertemuan selanjutnya, sang kakak mentor tak lelah menanyakan hal ini kepada kami walaupun beliau tahu bahwa kami masih ogah-ogah mengenakan kerudung yang kami ketahui bahwa itu hukumnya wajib bagi seorang perempuan muslim. 
Lama-lama saya pun menjadi penasaran sangat penasaran kenapa sih kakak mentor ku yang satu ini getol banget ngingetin kita buat pake kerudung. Suatu ketika akhirnya saya pun menemui kakak mentor saya dengan ditemani sahabat saya, yang sudah dari SMP mengenakan hijab. Di sana saya menanyakan banyak hal dan beberapa kemungkinan yang saya takutkan akan terjadi jika nanti ketika saya telah memutuskan mengenakan hijab. Dengan sabar kakak mentor saya menjelaskan dengan perlahan. Hal yang saat itu saya takutkan adalah saya takut bagaimana jika nanti saya sudah mengenakan hijab saya memutuskan melepaskannya, malu banget apa kata orang? Kakak mentor saya pun menjelaskan, bahwa memang mengenakan hijab itu membutuhkan proses. Jadi kalau mau perlahan-lahan ya enggak apa-apa, yang penting niat kita lurus karena Allah semata untuk melaksanakan perintah-Nya. Sepulang dari pertemuan tersebut hati saya mulai gelisah gak karuan, saya tidak tenang sama sekali. Saya berpikir jika memutuskan saya takut kalo nanti baru berapa hari kemudian dicopot gimana? Aduh, tapi kalo besok udah dipanggil sama Allah pulang ke rahmatullah gimana? aaaaaaa... semalaman itu saya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak, sampai akhirnya saya mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kakak mentor tersebut yang berisi, "Teh, saya mau pake kerudung. Mohon bimbingannya ya teh. Bismillah." Kakak mentor saya pun menyambut bahagia akan keputusan saya tersebut. Beliau membalas, "Alhamdulillah, iya insya Allah semoga Allah mengistiqomahkan niatmu ya dan semoga ini bisa menjadi amal kebaikan buat ade." Kegelisahan saya pun berangsur-angsur hilang. Saya berdoa agar dikuatkan niat saya tersebut untuk menutup aurat.
Keesokan paginya, saya pun meminta izin kepada ibu saya bahwa saya akan mengenakan kerudung ternyata responnya di luar dugaan. Ibu saya menanyakan keputusan saya ini sampai berkali-kali karena ibu saya tidak mau ketika saya sudah berkerudung kemudian memutuskan untuk melepaskannya kembali dan kembali menyerahkan keputusan kepada saya sendiri. Namun saat itu ibu saya terlihat tidak begitu setuju dengan keputusan saya ini. Walaupun begitu, saya tetap mantap untuk menutup aurat. Berbeda dengan ibu saya tadi, sahabat seperjuangan saya menyambut baik keputusan saya ini. Ia memberikan sebuah buku mengenai jilbab untuk mencari tahu lebih dalam.
Niat baik memang banyak sekali tantangan dan godaannya, ya saya harus melewati ujian di saat pertama kali saya memutuskan mengenakan kerudung ini. Beberapa hari kemudian, setelah saya memutuskan berkerudung dukungan dari ibu saya pun masih tak kunjung datang. Bahkan tak jarang kakak saya pun mengejek saya ketika memakai kerudung saya terlihat seperti ibu-ibu, nenek-nenek, bibi-bibi pokonya sesuatu dengan maksud mengejek. Saya sempat merasa tertekan karena saya tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat saya, yaitu keluarga. Betapa sedihnya, hampir setiap hari saya menangis untungnya selain Allah telah mengistiqomahkan hati saya, saya juga memiliki sahabat yang terus membantu menguatkan niat saya ini. Saya sangat sedih, pernah suatu waktu pada saat saya akan pergi bersama ibu saya, ibu saya mengatakan "hmm jadi ibu harus pake kerudung juga kalo pergi sama kamu." Saya sangat kaget mendengar perkataan ibu saya tersebut, bagaimana tidak seolah-olah kerudung ini menjadi suatu beban jika ibu saya pergi bersama dengan saya. Sedih sekali, sampai saya sempat merasa pake kerudung ini merupakan keputusan yang salah buat saya karena seperti sebuah beban bagi ibu jika berada bersama saya. Alhamdullilah, Allah telah memberikan saya seorang sahabat yang hebat yang tak henti-hentinya menyemangati dan menguatkan saya dan kamu tahu apa? setelah beberapa bulan saya mengalami hari yang cukup berat mengenakan kerudung, berangsur-angsur ejekan dari kakak saya pun tak lagi dilontarkan dan ibu saya pun mulai mengenakan kerudung dengan kemauannya sendiri. Alhamdulillah...
Memang ya kalau kita tetap istiqomah melaksanakan perintah-Nya asal karena Allah semata, insya Allah Allah akan memudahkan jalan kita.  
Jujur, sampai sakarang saya terus mencari tahu bagaimana cara berpakaian yang sebenarnya sebagai seorang muslimah. Di awal-awal mengenakan kerudung saya masih buka copot di dalam rumah, saya masih lupa pakai kerudung kalau pergi ke teras rumah bahkan saya pernah membiarkan seseorang yang bukan mahram saya melihat saya tanpa mengenakan kerudung. Astagfirullah. Masa-masa itu saya anggap sebagai masa jahiliah saya, masa kebodohan. Bersyukur sekarang sudah sedikit demi sedikit meluruskan niat kembali untuk siapa sebenarnya saya mengenakan hijab ini kalau bukan untuk Allah semata.
Namun, ya setiap perubahan itu butuh proses mungkin hanya membutuhkan waktu yang pendek atau bahkan waktu yang cukup panjang. Yang terpenting dari semua itu adalah niatnya kita mau berubah menjadi baik dan lebih baik lagi. Walaupun ada badai besar yang menghantam, kalau niat kita kuat karena Allah SWT insya Allah kita akan dibukakan jalan untuk terus istiqomah.. 
Oiya, ada hal yang ingin saya tambahkan mengenai perempuan yang sudah berkerudung namun yang katanya dirasa kurang pas, janganlah kita menghakimi mereka apapun dan bagaimana pun cara berpakaian dan tingkah laku mereka tidak usah kita hiraukan semuanya bergantung kepada niatnya masing-masing dan hal itu yang akan dipertanggungjawabkan oleh kita masing-masing secara pribadi. Baiknya kita hargai saya upaya mereka untuk menutup aurat. Dan mereka yang menutup aurat lebih baik dari mereka yang belum menutup aurat. So, hayo kapan nih siap untuk berhijab? 
Semoga tulisan ini bermanfaat.. Aamiin